Komentar netizen itu, singkat saja. Tapi maknanya dalam. Ia seakan mengangkat bahu, sambil berkata, "Nah, kan?"
Pernyataan Prabowo ini, terlepas dari maksud dan konteks lengkapnya, jelas menohok. Gaya penyampaiannya yang repetitif justru membuatnya mudah diingat dan mudah pula jadi bahan perdebatan. Di satu sisi, ia menyodorkan narasi yang konsisten tentang ancaman eksternal. Di sisi lain, penyederhanaan ekstrem itu bisa dibaca sebagai kritik balik, sebuah sindiran halus bahwa penjelasan untuk masalah kompleks negeri ini tak bisa sesederhana itu.
Nuansa editorialnya kuat. Ini bukan sekadar daftar, tapi sebuah pernyataan politik yang disampaikan dengan cara yang provokatif. Ritme tulisannya sengaja dibuat datar dan berulang, mungkin untuk menegaskan sebuah pesan, atau justru mengundang tawa. Tergantung dari sisi mana Anda melihatnya.
Yang jelas, satu hal tak terbantahkan: pernyataan ini berhasil menggiring pembicaraan. Entah itu untuk didukung, atau justru untuk dikritik habis-habisan.
-Ardianto Satriawan
Artikel Terkait
Sholat Rajin, Tapi Korupsi Jalan: Ustadz Hilmi Soroti Kualitas Ibadah Pejabat
TNI dan Terorisme: Mengapa Satuan Khusus Siap Jadi Tameng Terakhir?
Pratikno: Data Akurat Jadi Kunci Penanganan Pascabencana Sumatera
Pemerintah Siapkan Beasiswa Penuh untuk Perluasan Fakultas Kedokteran