Amnesty International, misalnya, menuduh aparat melakukan pembunuhan massal dalam skala yang besar. Sementara Iran Human Rights mencatat angka yang mengerikan: sedikitnya 3.428 demonstran tewas, dengan lebih dari 10 ribu orang ditangkap.
Ada satu kasus yang sempat mencuat. Reuters melaporkan tentang Erfan Soltani, seorang pria 26 tahun yang ditangkap saat protes. Eksekusinya disebut-sebut batal di hari yang dijadwalkan, setidaknya menurut keterangan keluarganya. Namun, memastikan kebenaran cerita dari lapangan saat ini nyaris mustahil.
Kenapa? Karena internet di Iran mati total selama hampir enam hari. Sekitar 144 jam, menurut pemantau NetBlocks. Pemadaman masif ini jelas menyulitkan siapa pun untuk memverifikasi klaim-klaim yang beredar, entah itu dari pemerintah atau dari para aktivis.
Meski begitu, ada satu indikator yang dicatat Institute for the Study of War: laporan aktivitas protes mengalami penurunan tajam. Banyak yang menduga, ini adalah dampak langsung dari represi keamanan yang sangat keras, bukan karena protesnya benar-benar padam.
Di sisi lain, ketegangan di tingkat internasional jelas belum reda. Trump sendiri masih membuka opsi militer, meski belum dipakai. Sementara negara-negara G7 menyuarakan keprihatinan serius dan mengancam akan memberikan sanksi tambahan. Tekanan terhadap Iran, tampaknya, masih akan berlanjut untuk waktu yang cukup lama.
Artikel Terkait
Mahfud MD Tegaskan Rekrutmen Polri Tak Lagi Terbuka untuk Titipan
Di Tengah Keterpurukan, PKP Gelar Munas 2026 untuk Cari Manajer, Bukan Raja
Prabowo Undang Rektor dan Guru Besar, Bahas Strategi Pendidikan Hadapi Gejolak Global
RUU Hukum Acara Perdata Digodok, Aturan Perampasan Aset hingga E-Court Masuk Bahasan