Dokter Tifa Klaim Fufufafa adalah Gibran, Ungkap Analisis Otak dalam Buku Kontroversial

- Kamis, 15 Januari 2026 | 08:40 WIB
Dokter Tifa Klaim Fufufafa adalah Gibran, Ungkap Analisis Otak dalam Buku Kontroversial

Caranya dengan melihat tiga hal utama. Pertama, Pola Impulsivitas: penggunaan diksi kasar dan sarkasme yang berulang menunjukkan amygdala (pusat emosi) lebih dominan ketimbang prefrontal cortex (pusat logika). Kedua, Ritme Sirkadian: cuitan larut malam mengindikasikan gangguan tidur yang bisa menurunkan fungsi frontal lobe, bikin seseorang sulit menahan diri. Ketiga, Neuropolitika: bagaimana otak merespons figur otoritas, yang mencerminkan sikap batin si subjek terhadap kekuasaan.

Dari riset yang ia lakukan, menggabungkan temuan teknis Roy Suryo dengan analisis perilaku saraf, Dokter Tifa merasa punya dasar kuat. Dari sekitar 5.000 cuitan, ia memilih 50 unggahan paling signifikan untuk dianalisis lebih dalam.

"Hasil analisis kami menunjukkan indikasi kuat. Saya berani katakan ada bukti bahwa akun Fufufafa ini 99,9 persen identik dengan Gibran Rakabuming Raka," tegasnya tanpa ragu.

Argumennya, meski identitas digital bisa disamarkan, pola perilaku saraf seperti gaya bicara dan waktu aktif sulit banget dipalsukan secara konsisten dalam jangka panjang. Semua temuan detail ini rencananya akan dibongkar habis dalam bukunya nanti.

"Silakan nanti masyarakat menilai sendiri hasil analisis saya di buku Gibran's Black Brain. Ini adalah upaya kami memberikan edukasi dari sudut pandang sains terhadap fenomena yang terjadi," tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana maupun dari Wakil Presiden Gibran sendiri soal klaim yang satu ini.

Di sisi lain, di media sosial X, ramai banget perbincangan netizen yang mencocok-cocokkan jejak digital akun Fufufafa dengan akun milik Gibran. Mereka seolah bilang, gak perlu jadi intelejen buat nebak siapa di balik akun itu. Beberapa screenshot perbandingan unggahan pun beredar luas, memperlihatkan kemiripan gaya dan konten.

Semua kini tinggal menunggu. Entah buku itu terbit, atau ada tanggapan resmi yang mematahkan analisis sang dokter.


Halaman:

Komentar