Di Tengah Gemerlap Dunia Maya, Hidup Biasa Justru Jadi Pilihan Paling Waras

- Kamis, 15 Januari 2026 | 02:00 WIB
Di Tengah Gemerlap Dunia Maya, Hidup Biasa Justru Jadi Pilihan Paling Waras

Menariknya, di tengah hiruk-pikuk budaya pamer, memilih untuk hidup biasa justru bisa jadi sikap yang penting. Keputusan untuk tidak membagikan segalanya adalah upaya menjaga batasan dan kewarasan. Nggak semua hal perlu diumumkan. Nggak setiap pencapaian butuh panggung publik. Ada kebahagiaan tersendiri dalam hidup yang lebih privat; menikmati momen tanpa kamera, merayakan sesuatu tanpa tunggu validasi like dan komentar. Ini bukan berarti kita anti media sosial, tapi lebih pada upaya menempatkannya pada porsi yang lebih sehat.

Perlu diingat juga, apa yang tampak di layar seringkali bersifat performatif. Tampilan luar yang wah belum tentu mencerminkan keadaan sebenarnya. Banyak orang terlihat baik-baik saja di dunia digital, tapi sebenarnya rapuh dalam kenyataan. Menyadari hal ini membantu kita mengurangi kebiasaan membandingkan diri dan belajar melihat kehidupan orang lain secara lebih utuh.

Hidup biasa juga mengajarkan satu nilai yang makin langka: kesabaran. Di tengah obsesi pada hasil instan dan ketenaran cepat, proses yang panjang kerap diabaikan. Padahal, justru di situlah makna sering ditemukan. Karier, hubungan, kedewasaan semuanya dibangun lewat waktu, usaha, dan tentu saja, kegagalan. Semua itu tumbuh dalam kehidupan yang berjalan perlahan.

Jadi, di dunia yang dipenuhi orang yang gemar pamer, butuh keberanian lebih untuk memilih hidup biasa. Bukan sebagai penolakan pada kemajuan, tapi sebagai cara mengembalikan hidup pada skalanya yang manusiawi. Hidup tak harus spektakuler untuk jadi bermakna. Ia hanya perlu dijalani dengan jujur, konsisten, dan setia pada prosesnya sendiri. Di tengah gemerlap orang-orang yang pamer, hidup biasa justru bisa jadi pilihan paling waras dan paling membebaskan.


Halaman:

Komentar