Linimasa media sosial kita sekarang lebih mirip galeri pameran mewah ketimbang ruang berbagi yang tulus. Foto liburan ke tempat eksotis, promosi jabatan yang seolah instan, simbol-simbol kemewahan semuanya membanjiri layar setiap hari. Tanpa kita sadari, standar "kesuksesan" hidup perlahan dibentuk oleh apa yang kita scroll, bukan oleh apa yang benar-benar kita rasakan. Akibatnya, hidup yang biasa saja sering dianggap kurang. Bahkan, dianggap gagal.
Budaya pamer ini tentu punya akar. Ia tumbuh subur di ekosistem digital yang mengubah perhatian menjadi komoditas berharga. Algoritma, mau tak mau, lebih mendorong konten yang mencolok dan mudah bikin kagum: kesuksesan kilat, kemewahan, potongan kehidupan yang nyaris sempurna. Di sisi lain, keseharian yang sederhana bekerja dengan ritme wajar, mengurus rumah, atau sekadar menikmati secangkir kopi di pagi hari nyaris tak dapat panggung. Yang kita lihat cuma highlight reel orang lain. Perjalanan panjang di baliknya, penuh kegagalan dan kelelahan, seringkali terhapus dari narasi.
Nah, masalahnya mulai muncul ketika semua itu jadi patokan. Tanpa disadari, kita mulai menilai diri sendiri lewat perbandingan yang timpang. Rasa cukup berganti jadi rasa tertinggal. Pencapaian kecil terasa hambar karena tak cukup "instagramable". Hidup biasa dianggap membosankan, padahal itu realita mayoritas orang. Tekanan semacam ini, pelan tapi pasti, menggerogoti kepercayaan diri. Dampaknya pada kesehatan mental, terutama buat generasi yang tumbuh bersama media sosial, nyata adanya.
Tapi, mari kita berhenti sejenak. Hidup biasa bukanlah kegagalan. Justru, itulah bentuk kehidupan yang paling nyata. Sebagian besar dari kita menjalani hari dengan ritme yang tak dramatis: bangun, bekerja atau belajar, pulang, beristirahat. Di balik rutinitas yang terlihat datar itu, ada stabilitas. Ada ketekunan. Ada proses pengembangan diri yang berjalan pelan, sering tak terlihat, tapi sangat berarti.
Artikel Terkait
New York Bongkar Jaringan Ekstremis yang Intimidasi Warga Palestina hingga Yahudi Kritis
Kartu Nusuk 2026 Dijanjikan Langsung Dibagikan di Indonesia
Trump Klaim Pembantaian di Iran Berakhir, Nada Ancaman Mendadak Redup
Senior PPDS Unsri Kena SP2 Usai Pungli Junior untuk Biaya Clubbing