TEHERAN Laporan dari media Iran mengklaim enam perwira senior CIA tewas dalam serangan yang dilancarkan Iran di Uni Emirat Arab. Kabar ini, jika terbukti, bakal jadi pukulan telak bagi badan intelijen AS di kawasan itu. Dua agen lainnya disebutkan mengalami luka-luka.
Di sisi lain, pernyataan resmi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) jauh lebih luas jangkauannya. Mereka menyatakan serangkaian serangan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Menurut mereka, fasilitas AS di Bahrain, Qatar, Irak, UEA, dan Kuwait jadi sasaran.
"Fasilitas militer AS di Bahrain diserang oleh dua rudal balistik," bunyi pernyataan IRGC yang dikutip media.
Pernyataan itu menambahkan, "Serangan tanpa henti sejauh ini mengakibatkan 560 tentara AS tewas atau luka."
Tak hanya rudal, serangan drone juga dilaporkan menghantam pangkalan angkatan laut AS di Bahrain. Klaimnya, pusat komando dan dukungan militer mengalami kerusakan serius. Operasional pangkasan di Kuwait, termasuk Lanal Ali Al Salem, disebut lumpuh akibat gempuran ini.
Gelombang klaim dari Teheran ini disusul pernyataan keras dari diplomatnya di PBB. Misi Tetap Iran menegaskan Amerika Serikat takkan pernah sanggup mengalahkan Iran.
"Impian Pemerintah AS yang bermusuhan untuk menelan Republik Islam Iran serta memaksanya tunduk, tidak akan pernah terwujud," begitu bunyi pernyataan mereka, penuh keyakinan.
Lalu, bagaimana tanggapan Washington? Hening. Sampai berita ini ditulis, belum ada respons resmi yang menanggapi langsung klaim tewasnya agen CIA dan ratusan tentara itu. Suasananya jadi makin mencekam.
Namun begitu, Pentagon sebelumnya hanya mengakui tiga tentaranya tewas dalam serangan balasan Iran. Itu pun sudah dianggap sebagai korban pertama AS sejak konflik memanas akhir pekan lalu.
“Beberapa lainnya mengalami luka ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak, dan sedang dalam proses dipulangkan kembali bertugas,” ujar Komando Pusat AS (Centcom) lewat sebuah pernyataan daring.
Mereka menambahkan, “Operasi tempur utama terus berlanjut dan upaya respons kami sedang berlangsung.”
Jadi, ada kesenjangan besar antara klaim Iran dan pengakuan resmi AS. Yang satu bicara ratusan korban, yang lain hanya menyebut tiga. Fakta sebenarnya mungkin ada di tengah-tengah, tersembunyi di balik kabut perang dan propaganda dari kedua belah pihak.
Artikel Terkait
Kemenhub Godok Aturan Integrasi Tarif dan Tiket Transportasi Multimoda
Dubes Iran Bantah Klaim Trump Soal Pembukaan Selat Hormuz
Ketua Ombudsman RI Ditahan Usai Ditahan Terkait Suap Rp1,5 Miliar dari Perusahaan Tambang
Ketua Ombudsman Ditahan Kejagung Terkait Dugaan Suap Nikel Rp1,5 Miliar