Konflik Timur Tengah Pacu Harga Minyak dan Gas Melonjak Tajam

- Selasa, 03 Maret 2026 | 06:40 WIB
Konflik Timur Tengah Pacu Harga Minyak dan Gas Melonjak Tajam

Harga minyak dan gas melonjak tajam pada Senin lalu. Pemicunya? Eskalasi konflik antara AS dan Israel dengan Iran yang kian meluas, dan banyak yang memperkirakan bakal berlangsung cukup lama bahkan berminggu-minggu. Situasi ini langsung bikin pasar tegang.

Kekhawatiran terbesar ya sederhana: pemulihan ekonomi global yang masih timbang-tembang bisa terganggu. Belum lagi ancaman inflasi yang siap menyala kembali. Dampaknya langsung terasa di mana-mana. Indeks saham global tertinggal, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS merangkak naik diselimuti kecemasan akan harga-harga yang melambung.

Nah, soal minyak, kenaikannya benar-benar curam. Kontrak berjangka minyak mentah meroket setelah serangan dan aksi balasan memaksa sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah tutup. Yang bikin waswas, lalu lintas kapal di Selat Hormuz jalur vital bagi pasokan minyak dunia ikut terganggu. Investor pun sibuk menebak-nebak: sampai kapan perang udara ini berlangsung?

Secara angka, minyak mentah AS (WTI) ditutup naik 6,28 persen ke level USD71,23 per barel. Sementara Brent, patokan internasional, melesat 6,68 persen ke USD77,74.

Tapi, ada hal menarik. Robert Yawger, analis Mizuho, ngomong kalau pasar sepertinya percaya situasi ini bakal cepat berakhir. “Pasar tampaknya menilai akhir dari situasi ini akan terjadi lebih cepat daripada nanti,” katanya, dikutip Dow Jones Newswires.

Dia ngasih contoh, WTI berpotensi diperdagangkan di bawah USD70 lagi, dan Brent sudah turun lebih dari USD5 dari level puncaknya.

“Produksi minyak memang belum dihentikan,” jelas Yawger. “Tapi lalu lintas kapal tanker di Teluk Persia sempat dihentikan sebagai langkah pencegahan.”

Dan dia mengingatkan, “Semakin lama Selat Hormuz secara efektif tertutup bagi pelayaran, semakin besar kemungkinan harga minyak akan terus merangkak naik.”

Di sisi lain, pergerakan saham global terlihat berat. Indeks MSCI dunia turun tipis 0,45 persen, meski sempat memangkas pelemahan. Di Eropa, STOXX 600 ditutup turun lebih dalam, 1,35 persen.

Tapi pasar AS menunjukkan ketahanannya. Setelah sempat terperosok, indeks S&P 500 berbalik menguat tipis di sesi sore. Sektor energi, pertahanan, dan teknologi jadi penopang. Menurut Lindsey Bell dari 248 Ventures, fokus investor jelas. “Banyak kekhawatiran hari ini terkait inflasi dan minyak akibat konflik di Timur Tengah,” ujarnya.

Bell menambahkan, justru karena kekhawatiran itu, investor malah makin fokus ke saham AS. Alasannya, saham AS dinilai menawarkan kepastian yang lebih besar soal laba dan pertumbuhan ekonomi ketimbang wilayah lain.

Lalu, apakah pasar sedang panik? Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management punya pandangan. Menurutnya, pasar global memang tegang, tapi investor belum sampai menunjukkan kepanikan atau memprediksi keruntuhan ekonomi dunia. Indikator ketakutan Wall Street, VIX, sempat melonjak ke level tertinggi sejak November, tapi kemudian kenaikannya dipangkas. Terakhir hanya naik 0,58 poin.

Sementara itu, di tengah gejolak, aset safe haven seperti emas mendapat angin. Logam kuning itu menguat pada Senin, didorong meningkatnya kekhawatiran akan konflik yang berkepanjangan. Sepertinya, banyak yang memilih bermain aman.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar