Nasib dua emiten tambang emas Indonesia, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dalam indeks VanEck Gold Miners ETF (GDX) dinilai masih cukup aman. Meskipun ada kekhawatiran akibat perubahan aturan perhitungan free float di pasar modal Indonesia, analis Indo Premier Sekuritas menilai risiko penghapusan kedua saham tersebut pada peninjauan indeks periode Juni 2026 masih terbatas.
Dalam riset yang terbit pada 29 Mei 2026, Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan mengungkapkan bahwa metodologi GDX memberikan ruang bagi anggota yang sudah ada untuk tetap bertahan. Syarat utamanya, emiten harus masih berada dalam cakupan 98 persen kapitalisasi pasar free float dari seluruh perusahaan yang memenuhi kriteria. Saat ini, AMMN dan BRMS memang masuk dalam kelompok sepuluh konstituen dengan bobot terkecil di GDX, tetapi keduanya masih memenuhi ambang batas tersebut.
Selain kapitalisasi pasar, emiten anggota GDX juga diwajibkan memperoleh minimal 25 persen pendapatan dari kegiatan pertambangan emas atau perak. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, AMMN mencatat kontribusi sekitar 32 persen pendapatan dari sektor emas, sementara BRMS hampir seluruh pendapatannya berasal dari bisnis emas. Dengan demikian, kedua perusahaan dinilai masih memenuhi syarat utama untuk bertahan di indeks tersebut.
Perubahan aturan free float di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk kewajiban pelaporan kepemilikan di atas satu persen dan penambahan 39 klasifikasi saham tertentu, juga dinilai tidak berdampak signifikan terhadap perhitungan GDX. Hal ini karena GDX hanya mengecualikan saham yang dikategorikan sebagai kepemilikan terkonsentrasi dengan porsi di atas lima persen dari total kapitalisasi pasar.
"Oleh karena itu, kami menilai penyesuaian free float yang berasal dari regulasi baru BEI tidak akan banyak memengaruhi perhitungan free float AMMN dan BRMS," tulis Ryan dan Reggie dalam risetnya.
Di sisi lain, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) disebut berpeluang naik kelas dari indeks VanEck Junior Gold Miners ETF (GDXJ) ke GDX. Peluang ini muncul seiring dimulainya produksi emas pada kuartal I-2026. Namun, menurut Indo Premier, kemungkinan tersebut belum akan terjadi dalam waktu dekat. Produksi emas EMAS pada kuartal pertama tahun ini masih relatif kecil, yakni sekitar 1.800 ons, dan belum tercermin dalam laporan keuangan karena belum ada penjualan yang dibukukan.
Proses dual listing yang tengah ditempuh perusahaan di Hong Kong juga berpotensi membuat publikasi laporan keuangan menjadi lebih terbatas selama periode blackout. "Kami melihat potensi masuknya EMAS ke GDX dapat menjadi katalis tambahan setelah dual listing, baik pada peninjauan kuartalan September maupun Desember 2026," tulis para analis tersebut.
Indo Premier memperkirakan EMAS berpotensi memenuhi ambang batas kapitalisasi pasar free float untuk masuk GDX apabila harga sahamnya mampu diperdagangkan di atas Rp8.000 per unit. Namun, batas tersebut bersifat dinamis karena dipengaruhi pergerakan saham-saham tambang emas global yang menjadi anggota GDX serta fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.
Sementara itu, untuk indeks GDXJ, Indo Premier memperkirakan tidak akan ada penambahan maupun penghapusan saham Indonesia pada peninjauan Juni 2026. Pasalnya, indeks tersebut hanya melakukan evaluasi secara semesteran. Sejauh ini, mereka juga belum melihat adanya risiko penghapusan terhadap anggota Indonesia yang sudah berada di dalam indeks tersebut.
Peninjauan indeks kali ini berlangsung di tengah tekanan yang masih membayangi sektor tambang emas global. Indo Premier mencatat indeks GDX dan GDXJ masing-masing telah terkoreksi sekitar 27 persen dan 28 persen dari level puncaknya, seiring pelemahan harga emas ke kisaran USD4.500 per troy ons. Bahkan, saham-saham anggota GDX asal Indonesia mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan indeks acuannya. Harga saham AMMN telah merosot sekitar 61 persen dari level tertinggi, sementara BRMS turun sekitar 54 persen.
Artikel Terkait
Harga Minyak Melonjak 4 Persen Setelah Iran Disebut Hentikan Negosiasi dengan AS dan Ancam Blokade Selat Hormuz
Wall Street Cetak Rekor Baru, Didorong Optimisme Negosiasi AS-Iran dan Chip AI Nvidia
IHSG Diprediksi Masih Rawan Koreksi pada Awal Juni, Sentimen Makro dan Geopolitik Jadi Penentu
Wall Street Terbelah di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Lonjakan Saham Nvidia