KOLAKA UTARA - Cuaca di Perairan Tobaku, Sulawesi Tenggara, Selasa (13/1/2025) petang itu berubah begitu cepat. Sebuah perahu nelayan yang sedang beraktivitas tiba-tiba dihantam angin kencang dan gelombang tinggi. Akibatnya, perahu itu terbalik. Di dalamnya, dua nelayan asal Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, bergantung pada nasib.
Namun begitu, kisah ini berakhir dengan baik. Berkat respons yang sangat cepat dari personel Polres Kolaka Utara, kedua nelayan itu akhirnya berhasil dievakuasi. Mereka selamat. Keduanya adalah Sultan (40) dan Nawa (39), yang saat kejadian tengah mencari ikan di sekitar perairan Desa Lanipa-nipa.
Menurut penuturan Sultan, sebelum pukul enam sore WITA, semuanya masih berjalan normal. Mereka melaut seperti biasa. Tapi mendekati magrib, langit berubah murka. Angin mendadak menderu, gelombang menghantam tanpa ampun. Atap perahu mereka tersapu ombak, dan kapal kecil itu pun oleng lalu terbalik. Dalam situasi kacau itu, satu hal yang dipikirkan Sultan: bagaimana caranya menghubungi orang di darat.
“Yang saya pikirkan saat itu bagaimana bisa menghubungi orang di darat. Saya langsung cari HP saya,” ujar Sultan, Rabu (14/1/2026).
Untungnya, ponselnya punya pelindung tahan air. Meski sempat terlepas dan tercelup, alat komunikasi itu masih bisa dipakai. Sambil berpegangan erat pada lunas perahu yang terbalik, dia menelepon rekannya di Polres Kolaka Utara. Panggilannya tersambung. Itulah panggilan yang menyelamatkan nyawa mereka.
“Alhamdulillah tersambung. Saya disuruh tetap tenang dan menunggu pertolongan,” katanya mengenang.
Sementara Sultan berjuang dengan teleponnya, Nawa berusaha mati-matian membalikkan perahu. Usahanya gagal. Hampir satu jam lamanya dia bertahan di tengah gulungan ombak, berteriak sekencang mungkin mengharap bantuan.
Artikel Terkait
Kunjungan Wapres Gibran ke Yahukimo Ditunda, Pangdam Ungkap Ancaman Keamanan
Dua Warga China Ditahan di Kalbar Usai Serang Anggota TNI di Lokasi Tambang
Habib Rizieq dan Massa Islam Desak Netflix Hapus Konten Pandji yang Disangkutkan dengan Salat
Menlu Sugiono: Diplomasi Indonesia Harus Berbasis Realisme di Tengah Dunia yang Abu-Abu