Sejak Jumat lalu, Kabupaten Pati tak henti-hentinya diguyur hujan. Bencana hidrometeorologi terus meluas, dan hingga Rabu (14/1) situasinya makin parah. Yang mengkhawatirkan, seluruh 21 kecamatan di wilayah itu kini tercatat terdampak, entah oleh banjir atau tanah longsor.
Kerusakan infrastruktur pun mulai terjadi. Rabu kemarin, dua jembatan di Kecamatan Jaken tak kuasa menahan derasnya arus dan akhirnya putus. Yang pertama adalah jembatan penghubung Pati dan Rembang, tepatnya di antara Desa Manjang dan Desa Sekarsari. Sisi barat jembatan itu ambrol begitu saja.
Jembatan kedua ada di Desa Tamansari, yang terhubung ke Desa Wiroto di Kecamatan Kaliori. Nasibnya sama, putus diterjang banjir.
Menurut laporan BPBD Pati, bencananya beragam. Tak cuma banjir, tapi juga tanah longsor dan puting beliung yang menyebar di 129 desa. Memang, banjir lah yang paling dominan. Ribuan rumah dan lahan pertanian terendam, fasilitas umum seperti tempat ibadah ikut kena. Bahkan, 21 Sekolah Dasar terpaksa mengalihkan belajar ke daring karena ruang kelasnya digenangi air.
Menyikapi hal ini, pemerintah setempat sudah bersiap. Martinus Budi Prasetya, Kepala Harian BPBD Pati, menjelaskan bahwa mereka telah membuka sejumlah posko pengungsian.
"Lokasinya tersebar, di Balai Desa Doropayung, bekas Stasiun Juwana, Balai Desa Bumirejo, Masjid Kalidoro, dan sebuah sanggar di Juwana," ujarnya.
Namun begitu, jumlah pengungsi ternyata tidak stabil. Kebanyakan warga hanya mengungsi saat malam tiba, lalu pulang ke rumahnya di pagi hari untuk beraktivitas. Catatan sementara, pengungsi yang pernah tercatat mencapai puluhan jiwa.
Di sisi lain, geliat solidaritas masyarakat terlihat. Beberapa dapur umum swadaya bermunculan, dari Kelurahan Kalidoro, Pati, Tayu, sampai Dukuhseti. Inisiatif ini murni dari warga.
“Dapur umum itu murni inisiatif masyarakat. Kami dari BPBD mendukung dengan bantuan bahan baku seperti beras dan minyak,” kata Martinus.
Untuk penanganan jangka pendek, BPBD kini bekerja sama dengan BBWS Pemali Juana dan Dinas PUPR. Fokus mereka adalah memperbaiki tanggul sungai yang jebol. Tapi situasinya belum benar-benar aman.
Martinus mengingatkan, "Kami mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat intensitas hujan masih tinggi dan potensi bencana susulan masih mengancam sebagian besar wilayah Kabupaten Pati."
Ancaman itu masih menggantung. Langit kelabu dan tanah yang sudah jenuh air membuat warga Pati harus terus siaga.
Artikel Terkait
Penyidik Polda Sumut Geledah Kantor Diskominfo Tebing Tinggi Usai OTT
Polisi Purbalingga Gagalkan Dua Modus Penyalahgunaan Subsidi LPG dan BBM
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Dharma Santi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi