Getah merah yang menyerupai darah mengalir dari dahan pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo sempat mengundang tanya. Namun, Joni Budi Hermanto dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang punya penjelasan sederhana. "Bukan darah," tegasnya via telepon Rabu lalu. "Itu memang getahnya yang berwarna merah."
Menurut Joni, getah berwarna mencolok itu sebenarnya hal biasa. Bahkan, dulu sering dimanfaatkan.
"Bahkan getah randu alas itu sering dipakai buat pewarna kain. Seperti apa ecoprint atau apa itu," katanya.
"Dan itu bisa sebagai obat juga, antara lainnya sebagai obat kumur, kemudian obat pengganti betadin segala macam."
Ia berharap fenomena alam ini tidak dibumbui hal-hal mistis di media sosial. "Memang getahnya warnanya merah, jadi jangan digoreng, terus ada bau mistis," ujarnya.
Sayangnya, pohon berusia ratusan tahun itu kondisinya memprihatinkan. Berdasarkan pengamatan tim di lapangan, sekitar 80 persen dari pohon itu sudah tak menunjukkan tanda kehidupan. Semua kulit luarnya mengelupas. Kambiumnya pun sudah hilang.
"Setelah kami checking di lapangan, sesuai dengan kemampuan dan batasan pengetahuan kami, kami melihat memang sebetulnya 80 persen itu tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi," jelas Joni.
Artikel Terkait
Empat Inovasi Siswa Medan Sabet Medali di Ajang Bergengsi Thailand
Ketika Dana Pendidikan Dikorbankan Demi Sepiring Nasi Gratis
Dua Tahun Berlalu, Pesona The Oath of Love Tak Juga Pudar
Ahli Tegaskan: Surat Berharga Tak Bisa Lahir dari Tukar Guling