Getah Merah Randu Alas Tuksongo Bukan Darah, Tapi Sinyal Pohon Ratusan Tahun Menuju Ajal

- Rabu, 14 Januari 2026 | 19:06 WIB
Getah Merah Randu Alas Tuksongo Bukan Darah, Tapi Sinyal Pohon Ratusan Tahun Menuju Ajal

Getah merah yang menyerupai darah mengalir dari dahan pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo sempat mengundang tanya. Namun, Joni Budi Hermanto dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang punya penjelasan sederhana. "Bukan darah," tegasnya via telepon Rabu lalu. "Itu memang getahnya yang berwarna merah."

Menurut Joni, getah berwarna mencolok itu sebenarnya hal biasa. Bahkan, dulu sering dimanfaatkan.

"Bahkan getah randu alas itu sering dipakai buat pewarna kain. Seperti apa ecoprint atau apa itu," katanya.

"Dan itu bisa sebagai obat juga, antara lainnya sebagai obat kumur, kemudian obat pengganti betadin segala macam."

Ia berharap fenomena alam ini tidak dibumbui hal-hal mistis di media sosial. "Memang getahnya warnanya merah, jadi jangan digoreng, terus ada bau mistis," ujarnya.

Sayangnya, pohon berusia ratusan tahun itu kondisinya memprihatinkan. Berdasarkan pengamatan tim di lapangan, sekitar 80 persen dari pohon itu sudah tak menunjukkan tanda kehidupan. Semua kulit luarnya mengelupas. Kambiumnya pun sudah hilang.

"Setelah kami checking di lapangan, sesuai dengan kemampuan dan batasan pengetahuan kami, kami melihat memang sebetulnya 80 persen itu tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi," jelas Joni.

Proses pengecekan pun dilakukan. "Awalnya kami akan coba beberapa titik untuk melihat apakah ada kehidupan atau tidak. Itu kita tunggu beberapa saat, apakah keluar getah ataupun keluar cairan yang sebetulnya nutrisi untuk nyuplai sampai ke atas. Tapi waktu itu sudah dipotong satu dahan baru separuh sudah roboh," ceritanya. Struktur bagian bawah pohon, hampir separuh lebih, sudah mati.

Proses pelapukan seperti ini wajar. Menurut literatur yang pernah ia baca, pelapukan pohon mati biasanya berawal dari sisi luar karena terpapar matahari dan hujan langsung. "Dia akan melapuk, kemudian menjalar dari bawah sampai ke atas, kemudian dari sisi luar itu ke dalam. Jadi, memang butuh waktu proses untuk itu sampai istilahnya kering semuanya."

Dari pengamatan sementara, tak ada tanda kehidupan dari ketinggian sekitar tiga hingga empat meter ke atas. Kepala Desa juga menyampaikan bahwa beberapa dahan sering patah dan langsung hancur saat jatuh.

Ada beberapa faktor yang diduga mempercepat kerusakan. Di batang bagian bawah, sebelumnya sempat terpasang reklame, paku, hingga besi untuk tenda pedagang. Tim DLH langsung mencabutnya. "Itu penyebabnya, salah satunya itu, tapi ya mungkin ada faktor lain, kami belum meneliti lebih lanjut," aku Joni.

Lalu, apa langkah selanjutnya? Bupati Magelang rencananya akan mengecek langsung kondisi pohon tersebut. Keputusannya akan menunggu hasil peninjauan itu.

"Pak Bupati sangat konsen dengan lingkungan hidup, peduli dengan pohon, itu beliau sangat konsen sekali. Eman (sayang) sekali sebenarnya. Jangan sampai apa yang beliau putuskan itu ternyata kurang pas. Beliau akan cek langsung," pungkas Joni.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar