Namun begitu, kerja sama tidak hanya berbentuk perjanjian formal belaka. Ada upaya lain yang juga digenjot, yaitu dialog strategis tingkat tinggi. Sugiono mengungkapkan, dalam kurun waktu yang sama, Indonesia telah menggelar empat dialog format '2 plus 2' yang melibatkan menteri luar negeri dan menteri pertahanan.
“Sepanjang satu tahun terakhir juga, kita telah melakukan empat dialog 2 plus 2 dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan negara mitra kunci, yaitu Tiongkok, Jepang, Australia, dan baru saja di awal tahun ini dengan Turki,” ungkapnya.
Bagi Sugiono, frekuensi dialog yang cukup padat ini bukan tanpa alasan. Ini mencerminkan kesadaran Indonesia dalam membaca peta dunia yang dinamis, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Di tengah kondisi seperti ini, risiko salah paham atau salah hitung antarnegara bisa meningkat. Karena itulah, komunikasi langsung menjadi kunci utama.
“Ketika risiko salah hitung meningkat dan persepsi menjadi faktor kunci, sinergi kebijakan luar negeri dan pertahanan adalah instrumen stabilisasi,” kata Sugiono.
Ia pun menutup pernyataannya dengan sebuah penegasan tentang filosofi pertahanan Indonesia. “Dan bagi Indonesia, pertahanan tidak dibangun dengan unjuk kekuatan, tetapi melalui kepastian, pencegahan, dan membuka ruang-ruang dialog,” tandasnya.
Artikel Terkait
Tsunami Berulang, Zona Merah Tetap Dibangun: Kapan Negara Berani Bertindak?
Dari Penjara Jakarta ke Bali: Mantan Napi Narkoba Kembali Beraksi
Menteri Kehutanan Usulkan Penambahan 25.000 Polhut untuk Kawal Hutan Indonesia
Hakim Ad Hoc Datangi DPR, Keluhkan Nasib yang Dianaktirikan Selama Belasan Tahun