Mendengar penjelasan itu, Gibran memutuskan untuk membeli sebuah tas noken. Sebuah apresiasi langsung untuk kerja keras yang memakan waktu berbulan-bulan.
Namun begitu, cerita tentang modal usaha kembali muncul. Saat singgah di lapak pedagang telepon genggam, permintaan serupa dilontarkan lagi. "Modal usaha, ya," pinta si pedagang dengan singkat. Gibran pun bertanya berapa lama ia berjualan di sana.
Jawaban itu seolah menggambarkan ketekunan sekaligus tantangan yang tak berubah selama bertahun-tahun. Menyaksikan langsung dinamika itu, Gibran tampak ingin memberi dukungan. Sebelum meninggalkan pasar, dia memborong berbagai dagangan. Buah-buahan segar, ikan, sayur-mayur, hingga kerajinan tangan lokal masuk ke dalam belanjaannya. Kunjungan singkat itu mungkin telah usai, tetapi percakapan tentang modal dan penghidupan yang lebih baik bagi para pedagang, barangkali, baru saja dimulai.
Artikel Terkait
DBMBK Sulsel Sebut Curah Hujan Tinggi Penyebab Kerusakan Dini Jalan Hertasning Makassar
Kapolri Lantik Brigjen Totok Suharyanto Pimpin Kakortas Tipidkor
Musisi AS Tuduh Serangan ke Iran sebagai Pengalihan dari Skandal Epstein
Pemimpin Tertinggi Iran Unggah Ayat Al-Quran, Bantah Klaim Kematian dari AS