Kalau berpapasan dengannya di jalan, mungkin Anda cuma anggap dia orang biasa. Tak ada yang istimewa. Jaket bomber, senyum lebar, penampilannya mirip anak IT fresh graduate.
Dia bukan jenderal berbintang lima. Bukan pula politikus yang retorikanya membakar massa.
Namanya Selcuk Bayraktar.
Tapi jangan salah. Di balik tampang polosnya, pria ini justru bikin sejumlah presiden dan jenderal di dunia merasa was-was. Bahkan, mungkin lebih ditakuti.
Media Barat seperti Time menyematkan gelar "Bapak Drone" padanya. Sementara di Rusia dan Armenia, namanya disebut-sebut dengan geram. Penemuannya dianggap mengubah tank kebanggaan mereka jadi onggaran besi hangus.
Lantas, siapa sebenarnya Selcuk Bayraktar?
Ceritanya ini bukti nyata bahwa kekuatan zaman sekarang ada di pena atau lebih tepatnya, baris kode komputer.
Awalnya, masa depannya cerah di Amerika. Tahun 2000-an, dia adalah mahasiswa jenius dengan gelar Master dari UPenn, lalu melanjutkan ke MIT, kiblatnya teknologi dunia. Lulus dari sana, jaminan dapat kerja enak dengan gaji gede di Silicon Valley.
Selcuk mempelajari hal-hal rumit seperti robot swarm dan algoritma. Hidupnya nyaman.
Tapi hatinya ternyata di Turki.
Waktu itu, sekitar 2005-2009, negaranya punya masalah serius. Konflik dengan PKK di pegunungan membuat tentara Turki seperti 'buta'. Mereka cuma bisa meminta bantuan drone dari Israel dan AS.
Hasilnya? AS menolak jual. Dari Israel cuma bisa sewa, itupun sering dapat gambar yang telat atau sudah disensor. Praktis, musuh sering kabur duluan.
Melihat penghinaan ini, darah muda Selcuk mendidih. Dia ambil keputusan yang bagi banyak orang gila: tinggalkan program PhD-nya, tolak tawaran kerja mentereng, dan pulang ke Istanbul.
Dia kembali ke bengkel ayahnya, Ozdemir Bayraktar. Saat itu, Baykar cuma bengkel kecil yang bikin suku cadang mobil. Bukan raksasa senjata.
"Ayah, kita harus bikin pesawat kita sendiri. Jangan bergantung pada orang lain," begitu kira-kira tekadnya.
Dan dimulailah fase perjuangan yang nggak mudah.
Selcuk nggak cuma duduk di kantor. Dia turun langsung ke lapangan, tinggal di kontainer bersama tentara di pegunungan Gabar dan Hakkari yang dingin dan berbahaya. Mau tahu kebutuhan tentara yang sebenarnya. Mau uji kode-kodenya dalam kondisi nyata.
Pasang kabel siang hari, nulis kode malam hari. Bertahun-tahun begitu.
Banyak yang meremehkan. Jenderal-jenderal senior menertawakannya. "Kamu masih muda, mau lawan teknologi Amerika? Jangan mimpi." Sistem birokrasi saat itu juga didominasi kalangan "Garda Lama" yang lebih suka impor katanya lebih bagus, padahal mungkin karena ada komisi.
Tapi Selcuk keras kepala. Dibantu saudaranya, Haluk, dia terus kerja.
Hingga akhirnya, lahirlah Bayraktar TB2.
Lalu, apa sih spesialnya drone ini? Kenapa banyak negara mau beli?
Dari kacamata analis militer, TB2 ini ibarat "Toyota Hilux-nya drone". Bukan yang tercepat atau tercanggih. Drone Reaper AS jauh lebih hebat secara spesifikasi.
Tapi TB2 punya keunggulan utama: harganya masuk akal.
Artikel Terkait
Gibran Serobot Lapangan, Cetak Hattrick di Sela Kunjungan Papua
Rizal Fadillah Didepak dari TPUA, Tuding Eggi Sudjana Otoriter dan Rusak Marwah Ulama
Wajah Bengkak dan Dua Sidang Hukum yang Mengguncang Istana
Makanan Balita Dibungkus Plastik, Program Gizi di Pandeglang Jadi Sorotan