Reaper bisa tembus 30 juta dolar AS. TB2? Cuma sekitar 5 juta. Artinya, kalau satu drone ditembak jatuh, bisa dikirim lima pengganti tanpa bikin bangkrut. Ini mengubah doktrin perang. Drone yang dulu barang mahal dan langka, sekarang jadi alat yang bisa 'dikorbankan'.
Teknologi kuncinya ada pada sistem otonom. TB2 bisa lepas landas, terbang, dan mendarat sendiri. Kalau sinyal hilang, dia balik sendiri ke pangkalan.
Senjatanya yang mematikan adalah peluru pintar MAM-L buatan Roketsan Turki. Kecil, tapi dipandu laser. Selcuk merancang software-nya sehingga drone dan peluru itu bisa 'komunikasi' dengan presisi tingkat tinggi.
Uji nyatanya terjadi di Perang Nagorno-Karabakh 2020.
Armenia punya tank-tank Soviet dan sistem pertahanan udara S-300 serta Pantsir yang digadang-gadang 'tak terkalahkan'. Tapi di layar komputer Selcuk, semuanya tampak seperti sasaran empuk.
Video yang beredar menunjukkan TB2 menghancurkan ratusan tank Armenia. Tentara Armenia bahkan sering tak melihat atau mendengar kedatangan drone kecil ini.
Rusia pun malu. Sistem Pantsir mereka yang mahal ternyata bisa dihancurkan oleh drone 'murah' buatan Turki.
Dunia pun gempar. Majalah pertahanan ramai berspekulasi: "Apakah zaman tank sudah berakhir?"
Dan orang yang memicu semua ini adalah insinyur lulusan MIT yang gaya berpakaiannya santai, kerap hanya jaket bomber.
Perang Ukraina kemudian semakin mengukuhkan namanya. Lagu "Bayraktar" dinyanyikan tentara Ukraina. Drone ini jadi simbol perlawanan di awal invasi.
Kesuksesan ini mengubah peta. Turki yang dulu dikenal sebagai importir senjata, kini diekspor. Polandia, Rumania, bahkan Arab Saudi antre pesan.
Meski begitu, tentu ada kontroversi. Kita harus fair.
Drone tetaplah senjata pembunuh. Banyak korban sipil berjatuhan dalam berbagai konflik. Kritikus Barat kadung menjulukinya "Pedagang Kematian".
Lalu ada isu nepotisme. Selcuk menikahi Sümeyye Erdoğan, putri Presiden Erdoğan, pada 2016. Banyak yang bilang, kesuksesan Baykar karena dia menantu presiden.
Tapi fakta berbicara lain. Selcuk mulai menggarap drone mini sejak 2007, jauh sebelum pernikahan itu. Ayahnya, Özdemir, memang sudah lama kenal dengan lingkaran Erdoğan. Tapi kalau produknya jelek, mana mungkin negara sekelas Polandia atau Ukraina yang sedang betul-betul berperang mau membelinya? Mereka beli karena kualitasnya terbukti di lapangan, bukan karena siapa yang bikin.
Sekarang, Selcuk sudah melangkah lebih jauh. Fokusnya kini pada proyek gila berikutnya: Bayraktar KIZILELMA (Apel Merah).
Ini bukan drone baling-baling lagi, melainkan jet tempur tak berawak yang supersonik dan siluman. Dirancang untuk operasi dari kapal induk Turki, TCG Anadolu.
Visinya jelas: masa depan pertempuran udara akan dikuasai oleh AI dan algoritma, bukan lagi cuma pilot manusia.
Kisah Selcuk ini penting, terutama bagi dunia Islam. Dia membuktikan bahwa kita tidak harus selamanya jadi konsumen teknologi Barat. Kita bisa jadi pencipta. Syaratnya? Ilmu pengetahuan, dan kemauan untuk bekerja keras dengan integritas bukan untuk korupsi atau cari komisi, tapi untuk bangsa dan negara.
Dia pulang bukan dengan tangan kosong, tapi dengan ilmu dari MIT. Dia gabungkan semangat patriotik dengan disiplin teknik tinggi.
Bahkan, dia menciptakan TEKNOFEST, festival sains terbesar di dunia, untuk memicu minat anak muda Turki pada teknologi. Impiannya sederhana: agar generasi berikutnya bercita-cita jadi insinyur roket, bukan cuma selebritis.
Jadi, ketika melihat drone Bayraktar terbang, kita bukan cuma melihat mesin. Itu adalah hasil keringat dan tekad seorang pemuda yang meninggalkan zona nyamannya, demi harga diri negerinya.
Dia mengajarkan satu hal: kedaulatan nasional itu dibangun bukan cuma di mimbar politik, tapi juga di laboratorium, di bengkel pabrik, dan di setiap baris kode program.
Sungguh, rencana Tuhan memang tak terduga. Siapa sangka, dari bengkel suku cadang mobil biasa, bisa lahir teknologi yang bikin negara adidaya sekalipun ciut nyalinya.
Artikel Terkait
KIP Menangkan Gugatan, Ijazah Jokowi Wajib Dibuka ke Publik
Cemburu Membara, Terapis Tewas Dicekik Suami di Kos Bekasi
Kisah Gamma dan Kenaikan Pangkat yang Menyisakan Pertanyaan
Senioritas Menyimpang di PPDS Unsri: Korban Terpaksa Biayai Gaya Hidup Hingga Lakukan Percobaan Bunuh Diri