TVRINews – Jakarta
Meningkat Drastis: Seskab Bantah Isu Dana Pendidikan Dipangkas untuk Makanan Gratis
Isu itu beredar cukup kencang: program Makan Bergizi Gratis (MBG) dituding akan menggerus anggaran untuk sekolah dan guru. Tapi pemerintah punya cerita yang berbeda. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya akhirnya angkat bicara, memberikan klarifikasi resmi yang tegas. Menurutnya, narasi pengurangan dana pendidikan untuk membiayai program prioritas lain sama sekali tidak akurat.
Justru sebaliknya. Teddy menegaskan, alokasi untuk sektor pendidikan pada 2026 malah bakal naik signifikan. Tujuannya jelas, untuk memperkuat kualitas SDM secara komprehensif. Klaim ini sekaligus jadi bantahan terhadap kekhawatiran banyak pihak.
“Target tahun ini adalah penambahan 100 sekolah baru untuk memperkuat capaian tahun sebelumnya yang telah menjangkau sekitar 20.000 siswa,”
Demikian bunyi keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Sekretariat Kabinet, menegaskan komitmen tersebut.
Di sisi lain, pemerintah mengaku sudah berkoordinasi dengan DPR. Mereka bilang, sudah ada kesepakatan untuk memperluas jangkauan program-program strategis yang sudah berjalan, tanpa perlu mengorbankan yang lain.
Fokus pada Akses dan Infrastruktur
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, komitmen memperluas akses pendidikan diwujudkan lewat Sekolah Rakyat. Program ini memang dirancang khusus untuk anak-anak yang putus sekolah. Mereka tak cuma dapat pelajaran, tapi juga fasilitas asrama, jaminan kesehatan, dan tentu saja, nutrisi yang memadai.
Soal bangunan fisik, pemerintah pusat juga tak tinggal diam. Ada langkah konkret dengan menyiapkan dana tak main-main: Rp17 triliun di tahun 2025. Uang sebesar itu rencananya dipakai untuk merenovasi sekitar 16.000 sekolah di seluruh Indonesia. Memang, urusan administrasi sekolah-sekolah itu ada di tangan Pemda, tapi pusat tetap menjadikannya perhatian prioritas.
Reformasi Kesejahteraan Guru
Nasib para guru juga dapat perhatian serius dalam anggaran terbaru ini. Pemerintah mengubah sistem penyaluran tunjangannya. Tujuannya sederhana: memastikan dana sampai tepat waktu, langsung ke rekening para pendidik tanpa hambatan.
Beberapa perubahan penting patut dicatat. Insentif untuk guru honorer, misalnya, naik jadi Rp400.000. Kenaikan ini terasa signifikan mengingat posisinya yang stagnan selama dua puluh tahun. Lalu, tunjangan untuk guru non-ASN dinaikkan dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta di tahun 2025. Yang tak kalah penting, skema penyalurannya dipercepat dari sebelumnya per tiga bulan, kini menjadi bulanan. Langkah ini diharapkan bisa menjaga stabilitas keuangan para pengajar.
Digitalisasi dan Langkah ke Depan
Zaman sudah berubah. Menyadari hal itu, pemerintah terus mendorong digitalisasi proses belajar. Salah satu wujudnya adalah pendistribusian 280.000 perangkat TV digital ke berbagai sekolah. Harapannya, kesenjangan kualitas pendidikan antara kota dan daerah terpencil bisa sedikit demi sedikit dikikis.
Pada akhirnya, penegasan dari Sekretariat Kabinet ini ingin menyampaikan satu hal: penambahan anggaran pendidikan bukan sekadar deretan angka di atas kertas. Lebih dari itu, ia dimaksudkan sebagai bukti nyata keberpihakan negara pada siswa, pada guru, dan pada ketahanan infrastruktur sekolah kita di masa yang akan datang.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Korlantas Polri Kerahkan Teknologi Canggih untuk Pengamanan Kemala Run 2026 di Bali
Mantan Atlet Sepak Bola Wanita Sumedang Dilaporkan Atas Laporan Begal Palsu
Sembilan Siswa SMAN 1 Purwakarta Dipanggil Bersama Orang Tua Usai Aksi Mengejek Guru
Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR 2026 Dibuka di Banten, Tekankan Pengamalan Nilai Kebangsaan