Mahasiswa Terjebak Gaya Hidup: Utang Demi Eksis, Kuliah Terabaikan

- Rabu, 14 Januari 2026 | 03:06 WIB
Mahasiswa Terjebak Gaya Hidup: Utang Demi Eksis, Kuliah Terabaikan
Gaya Hidup Mahasiswa: Antara Gengsi dan Realita

Kampus seharusnya jadi tempat mencari ilmu. Tapi sekarang, lihat saja sekeliling. Ruang kuliah dan lorong kampus tak ubahnya panggung mode atau set foto. Banyak mahasiswa datang dengan impian besar, tapi perlahan-lahan terhanyut dalam arus yang lain sama sekali: arus eksistensi.

Tekanannya datang dari mana-mana. Media sosial, tentu saja, jadi biang kerok utama. Tapi lingkungan pertemanan di kampus sendiri sering kali justru memperparah keadaan. Ada semacam perlombaan diam-diam: siapa yang lebih fashionable, lebih sering nongkrong di tempat yang instagramable, atau lebih cepat mengikuti tren terbaru. Semua demi satu kata: diterima.

Yang terjadi kemudian? Banyak yang kehilangan arah. Nilai akademik merosot, itu hal biasa. Tapi yang lebih memprihatinkan, hidup mereka berubah jadi beban. Di balik penampilan kekinian dan unggahan yang wah, tersimpan perjuangan sunyi yang berat.

Mereka ada yang terjerat utang. Banyak yang kerja paruh waktu sampai larut malam, lalu paginya masuk kuliah dengan mata sembab. Semua demi bisa membeli tas merek ternama atau sekadar mentraktir teman-teman sekelompok. Ironisnya, demi gaya hidup yang "match", tak sedikit yang justru menekan ekonomi keluarga. Uang kuliah bisa tertunggak, sementara uang untuk beli sneaker edisi terbaru selalu ada.

Gengsi, ya. Itu topengnya. Sementara kebutuhan yang benar-benar penting justru dikorbankan.

Menurut sejumlah pengamat, batas antara realita dan pencitraan kini benar-benar kabur. Pengaruh selebgram dan konten kreator yang menampilkan kemewahan sebagai hal normal bikin standar hidup jadi melambung tinggi. Akibatnya, fokus utama pun bergeser. Bukan lagi pada buku dan teori, tapi pada like dan komentar. Bukan pada IPK, tapi pada jumlah follower.

Krisis identitas pun tak terhindarkan. Mereka bertanya, ini diri saya yang sebenarnya, atau hanya versi yang ingin dilihat orang?

Di sisi lain, kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Lingkungan punya peran besar. Inilah mengapa memilih teman dan komunitas di kampus itu sangat krusial. Teman yang baik itu bukan yang memaksa kita ikut tren, tapi yang mengingatkan kita pada tujuan awal kita kuliah. Kampus harusnya jadi tempat membangun kemandirian dan karakter, bukan ajang kontes status sosial.

Pada akhirnya, dunia nyata akan menuntut hal yang berbeda. Dunia kerja butuh kompetensi, integritas, dan ketekunan. Bukan seberapa sering kita muncul di feed orang lain.

Jadi, menjadi keren yang sesungguhnya mungkin justru dimulai dari keberanian untuk berkata tidak. Tidak untuk gaya hidup yang tak terjangkau. Tidak untuk pertemanan yang hanya berbasis pencitraan. Fokus pada tujuan, sadar akan kemampuan diri, dan berani tampil apa adanya itulah sikap yang justru akan membawa kita lebih jauh.

Karena masa depan dibangun dengan ilmu dan kerja keras, bukan dengan filter dan hashtag.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar