Kasus-kasus lain juga tak kalah menarik. Makiko Yamada, Juru Bicara Perdana Menteri di tahun 2021, harus mundur setelah terungkap menerima jamuan makan mewah dari perusahaan yang punya hubungan dengan keluarga PM. Lalu ada Hiroshi Sasaki, Wali Kota Toda, yang baru-baru ini mengundurkan diri karena dugaan pemalsuan ijazah. Hal sepertinya menunjukkan betapa integritas akademik pun jadi harga mati bagi pejabat di sana.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Sayangnya, budaya serupa belum benar-benar mengakar di sini. Pejabat kita sering kali terlihat enggan, bahkan sangat enggan, untuk mundur meski sudah tersandung skandal yang jelas. Rasa malu dan tekanan moral kolektif tampaknya masih minim. Alih-alih memikul tanggung jawab, yang sering terjadi justru pengorbanan bawahan atau pembelaan dengan dalih 'hak prerogatif'. Sungguh kontras dengan Jepang yang menjunjung tinggi tanggung jawab moral di atas segalanya.
Wacana ini pun ramai diperbincangkan warganet. Banyak yang menyoroti titik awal yang harus dibenahi.
Ada juga yang melihatnya dari sudut yang lebih sistemik.
Kritik yang lebih langsung juga muncul.
Artikel Terkait
Gawat! Senior PPDS Unsri Paksa Junior Biayai Gaya Hidup Mewah
KPK Selidiki Aliran Dana Kuota Haji ke Ketua Bidang Ekonomi PBNU
Wamendagri Soroti Lonjakan Sampah, Aglomerasi Jadi Solusi Kolaboratif
Ray Rangkuti Peringatkan Wacana Pilkada Lewat DPRD: Bom Waktu Korupsi dan Sandera Politik