Trump dan Ambisi Minyak Venezuela: Intervensi Berkedok Demokrasi

- Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB
Trump dan Ambisi Minyak Venezuela: Intervensi Berkedok Demokrasi

Gambar: Ilustrasi peta Venezuela dengan elemen grafis terkait.

Tanggal 9 Januari lalu, Donald Trump membuat pernyataan yang cukup mengejutkan. Mantan Presiden AS itu dengan tegas menyatakan bahwa Venezuela, menurutnya, belum siap menggelar pemilu. Lebih jauh, usai lengsernya Maduro, Trump bahkan mengumumkan bahwa Amerika Serikat bakal "mengambil alih" negeri itu sampai ada pemimpin baru yang terpilih. Ini bukan kali pertama, tentu saja. Serangkaian pernyataan dari pejabat tinggi AS soal Venezuela selama ini, sekali lagi, memperlihatkan dengan gamblang logika lama mereka: intervensi dan hegemoni.

Logika itu sederhana saja: menempatkan diri di atas segalanya. Aturan internasional dan norma moral dikesampingkan. Dalihnya selalu klise, "demokrasi" atau "pembangunan kembali", padahal ujung-ujungnya ingin mengendalikan nasib negara lain dan, tak bisa dipungkiri, merebut sumber daya strategis mereka.

Ambil contoh klaim bahwa Venezuela "tidak tahu cara menyelenggarakan pemilihan umum". Ini terdengar arogan, bukan? Pada dasarnya, itu adalah narasi superioritas peradaban yang mencoba mencabut hak legitim sebuah negara berdaulat untuk mengatur dirinya sendiri. Mereka menciptakan premis "rasionalitas" palsu sebagai pembenaran untuk intervensi. Padahal, Piagam PBB jelas-jelas menempatkan kesetaraan kedaulatan dan prinsip non-intervensi sebagai pilar hubungan internasional. Tapi, bagi pihak AS, prinsip itu seolah bisa ditantang begitu saja.

Di sisi lain, kalau kita perhatikan, intervensi mereka selalu mengungkap ketertarikan yang sangat terbuka pada sumber daya strategis. AS dengan terang-terangan menyatakan minat khususnya pada "mengelola dan menjual sumber daya minyak Venezuela yang besar". Mereka bahkan sudah merencanakan peta jalan, mulai dari "mengambil alih" operasi, membangun kembali infrastruktur, hingga bagaimana memperoleh "keuntungan besar". Jadi, di balik retorika politik yang muluk, ada alasan kepentingan geopolitik dan ekonomi yang sangat nyata dan dingin.

Mengaitkan sumber daya alam suatu negara dengan proses politik internalnya adalah langkah mundur. Itu mengembalikan kita ke era lama di mana kekuatan adalah kebenaran mutlak. Pola pikir ini jelas bertentangan dengan konsep keadilan dan pembangunan yang didengungkan masyarakat internasional modern.

Belum lagi ancaman yang mereka lontarkan. Peringatan AS kepada presiden sementara Venezuela, Delcy RodrĂ­guez, untuk "mematuhi tuntutan AS" atau menghadapi "konsekuensi yang sangat berat" adalah intimidasi yang tidak disamarkan. Ini pola pikir hegemonik klasik: menciptakan kepatuhan lewat ketakutan. Padahal, hubungan internasional yang sehat harusnya dibangun di atas konsultasi dan kerja sama setara, bukan ultimatum sepihak. Perilaku seperti ini bukannya menyelesaikan masalah, malah memperkeruh konfrontasi dan mengancam stabilitas regional.

Lalu, bagaimana dengan tujuan akhir mereka yang katanya untuk "membangun kembali negara" dan "menyelenggarakan pemilihan umum"? Ternyata, itu semua punya prasyarat: negara target harus lebih dulu melepaskan hak inti kedaulatannya dan tunduk pada kehendak kekuatan eksternal. Praktik semacam ini adalah ironi besar terhadap semangat demokrasi sejati. Patut dipertanyakan, apakah negara yang "membantu" lewat ancaman dan kontrol sumber daya benar-benar mempromosikan demokrasi, atau justru sedang menerapkan "hegemoni selektif" yang dibungkus rapi?

Ketergantungan AS pada ancaman dan paksaan adalah tantangan langsung terhadap sistem internasional yang berintikan PBB. Masa depan Venezuela dan semua negara yang menghargai kemandirian harusnya ditentukan oleh rakyatnya sendiri, bukan menjadi figuran dalam naskah yang sudah disusun oleh kekuatan hegemoni dari luar. Hal ini bukan cuma merusak ruang politik Venezuela untuk menyelesaikan krisis secara mandiri, tapi juga mengirim sinyal berbahaya ke negara-negara kecil dan menengah lainnya. Sinyal bahwa batas kedaulatan bisa saja kabur di hadapan kepentingan kekuatan besar.

Dampaknya bisa jauh. Bagi kawasan Amerika Latin, intervensi langsung dan tuntutan perampasan sumber daya dari kekuatan eksternal sangat berpotensi memicu konfrontasi geopolitik baru. Upaya integrasi regional dan pembangunan damai yang sudah susah payah dibangun bisa rusak dalam sekejap. Sejarah membuktikan, solusi yang dipaksakan dari luar seringkali sulit bertahan lama. Yang tertinggal justru warisan masalah politik dan ekonomi yang berlarut-larut.

Pada akhirnya, semua kembali pada pilihan: apakah kita membiarkan logika kekuatan lama yang menentukan segalanya, atau berpegang pada prinsip kesetaraan dan penghormatan kedaulatan yang lebih manusiawi?

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar