Pandji dan Bahlul: Kritik Tajam untuk Pikiran yang Waras
Oleh: Ustadz Dr. Hepi Andi Hapsori (Pusat Kajian Sirah)
Nama Pandji Pragiwaksono lagi ramai-ramainya. Pemicunya? Sebuah kritik pedas terhadap pemerintah yang ia lontarkan lewat panggung Stand Up Comedy bertajuk Mens Rea di Indonesia Arena, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Lalu, apa hubungannya dengan Bahlul? Bukan Bahlil, lho, tapi Bahlul.
Di tengah kita sekarang, sebutan "Bahlul" kerap dilekatkan pada sikap bodoh atau kelakuan konyol. Tapi tunggu dulu. Kalau kita telusuri asal-usulnya, justru ceritanya jadi lain. Figur Bahlul dalam sejarah justru muncul dari kecerdasan, kritik moral, dan sebuah strategi penyelamatan diri yang cerdik.
Asal-Usul Kata "Bahlul"
Secara bahasa, bahlul atau buhlul sebenarnya bukan kata hinaan biasa. Kamus Arab klasik justru menggambarkannya sebagai sosok yang terlihat bodoh, jenaka, atau nyeleneh, tapi di balik itu punya akal yang cerdas.
Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab misalnya, menulis begini:
"Seseorang yang cerdas dan berakal, namun menampakkan diri seperti orang bodoh."
Pendapat serupa datang dari al-Fairuzabadi dalam al-Qamus al-Muhith. Ia menegaskan, bahlul adalah orang pintar yang pura-pura gila demi tujuan tertentu.
Jadi, sejak awal, "Bahlul" itu justru simbol kecerdikan yang disamarkan, bukan kebodohan.
Bahlul dalam Catatan Sejarah: Fakta atau Sastra?
Dalam literatur, ada sosok bernama Bahlul ibn 'Amr yang disebut hidup di awal masa Kekhalifahan Abbasiyah. Ia sering digambarkan berkeliaran di jalanan Baghdad dengan tingkah aneh, bicara seperti orang tak waras, tapi ucapannya penuh hikmah dan sindiran tajam.
Tokoh ini banyak muncul dalam karya Ibnu al-Jauzi berjudul Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin. Kitab itu sendiri adalah kumpulan kisah orang-orang yang tampak dungu. Menariknya, Ibnu al-Jauzi sadar betul bahwa sebagian dari mereka sebenarnya cerdas, hanya saja menyembunyikannya.
Bahlul ditempatkan dalam kategori ini. Dialog-dialognya dengan penguasa sering kali sangat menusuk.
Ketika Bahlul Berhadapan dengan Istana
Banyak kisah menempatkan Bahlul di era Khalifah Harun ar-Rasyid. Ia bukan ulama istana, bukan pejabat. Ia figur di luar sistem. Justru karena dianggap "tidak waras", ia bebas bicara apa saja.
Konon, ia pernah menegur sang Khalifah soal kefanaan dunia. Istana megah ia sindir hanya sebagai "rumah sementara". Teguran semacam itu tentu berisiko besar bila diucapkan menteri atau ulama. Tapi aman saja keluar dari mulut seorang yang dicap "gila".
Abu Hayyan at-Tauhidi menyebut fenomena ini sebagai tradisi zuhhad mutamajjinin: para zahid yang berpenampilan aneh untuk menjaga jarak dari gemerlap kekuasaan.
Riwayat Sejarah atau Kisah Hikmah?
Di titik ini, kita perlu jernih. Tidak semua kisah Bahlul adalah riwayat sejarah bersanad ketat. Sebagian besar sifatnya adabiyyah cerita sastra yang mengandung pelajaran moral, bukan dasar hukum.
Ibnu al-Jauzi sendiri tak mengklaim semua kisah dalam bukunya sebagai fakta historis. Tujuannya sederhana: menunjukkan bahwa "tidak setiap orang yang tampak bodoh itu benar-benar bodoh."
Maka, para ulama memandang kisah Bahlul lebih sebagai cermin kritik sosial, bukan dalil syariat.
Lalu, Kenapa di Indonesia Maknanya Jadi Negatif?
Ini yang menarik. Di Indonesia, makna "Bahlul" tereduksi jadi negatif. Konteks sejarah dan bahasanya terputus. Yang tersisa cuma lapisan luarnya: kelakuan aneh dan lucu. Sementara intinya kecerdasan, keberanian moral, dan sikap kritis justru hilang.
Padahal, dalam tradisi klasik, menyebut seseorang "Bahlul" bisa berarti ia cerdas, tapi memilih selamat dengan cara berpura-pura.
Nah, Kaitannya dengan Pandji?
Ini tentang menyampaikan kritik kepada penguasa. Caranya saja yang beda. Kalau Bahlul lewat kepura-puraan jadi orang gila, Pandji memilih panggung komedi dengan kata-kata kocak dan lucu.
Pelajaran yang bisa diambil? Menyampaikan kebenaran kadang tak bisa dilakukan secara vulgar dan terang-terangan. Lewat sindiran lucu, atau bahkan pura-pura kurang waras, pesannya bisa sampai dengan lebih aman.
Artikel Terkait
Prabowo Buka Retret Ketua DPRD dengan Dialog dari Hati ke Hati
Bareskrim Gerebek Pabrik Gas Whip Pink Beromzet Miliaran di Jakarta
PSM Makassar Hadapi Borneo FC di Parepare, Pertarungan Sengit Penuh Sejarah
Harga Emas Perhiasan Relatif Stabil Meski Pasar Global Bergejolak