Oleh SHAUN KING
Ini alasan mendasarnya. Kenapa media independen itu wajib ada. Sederhana saja: media arus utama yang disebut "Barat" punya agenda sendiri. Agenda yang, mau tak mau, mendukung genosida, apartheid, dan segala bentuk kekejaman. Titik.
Nah, di bawah ini saya bakal kasih lihat lima video. Lima cuplikan realita yang hampir mustahil Anda tonton di layar kaca Amerika.
Bukan karena videonya nggak ada. Bukan juga karena kurang penting. Tapi karena narasinya nggak cocok. Selama puluhan tahun, kita dicekoki cerita yang sama: Iran selalu jadi penjahat karton, sementara Amerika tampil sebagai pihak yang bijak dan rasional. Video-video ini merusak gambaran itu. Makanya disembunyikan.
Isinya? Kerumunan besar di Iran. Tapi mereka nggak demo melawan pemerintahnya sendiri. Justru sebaliknya, mereka berdemonstrasi "untuk" pemerintah mereka, sambil menentang Trump dan campur tangan asing. Anda boleh setuju atau tidak. Itu urusan nanti. Yang jelas, ini nyata. Dan rakyat Amerika sengaja dibiarkan buta.
Di sinilah pentingnya keanggotaan di media independen. Kebenaran sedang digerus habis oleh propaganda dan kesunyian yang disengaja. Pemerintah yang berkuasa bukan cuma berbohong. Mereka mengatur apa yang boleh Anda lihat. Dan begitu Anda cuma melihat satu sisi dari sebuah bangsa, ya gampang. Membom mereka jadi lebih gampang. Menjatuhkan sanksi, membiarkan mereka kelaparan, lalu membungkusnya dengan label "keamanan nasional".
Jadi, coba tonton kelima video ini. Lihat dengan mata kepala sendiri.
Pertama. Ini jantung ibu kota Iran, Teheran. Suasana sehari-hari di sana ternyata begini.
Kedua. Saya pengin banget Anda dengar langsung kata-kata orang Iran ini. Ini terjadi baru kemarin malam. Dengarkan baik-baik pandangan mereka tentang Trump.
"Dengar suara rakyat Iran di Teheran, tadi malam."
Artikel Terkait
Pemecatan Massal TPUA, Sinyal Klarifikasi Eggi Sudjana Usai Bertemu Jokowi
Kepala Sekolah Lampung Murka, Tempe dan Anggur Busuk Ditemukan di Menu Gizi Gratis
Keringat Pagi dan Aroma Kopi: Ritual Sempurna di Tengah Kesibukan Kota
Presiden Iran Tuding AS dan Israel Dalangi Kerusuhan, Korban Jiwa Tembus 540 Orang