“Beda sama COVID, itu virus baru. Akibatnya imun sistemnya kita kan nggak siap, kemungkinan meninggalnya besar,” jelasnya. “Ini karena sudah lama, sudah tahunan itu beredar, sebenarnya asal badan kita sehat harusnya bisa diatasi oleh imun sistemnya kita sendiri.”
Karena itu, ia meminta semua pihak untuk tidak panik. Reaksi berlebihan seperti di masa pandemi dulu tidak diperlukan. Memang, tingkat penularan virus ini terbilang tinggi dan cepat menyebar. Namun begitu, angka kematiannya justru sangat rendah.
“Jadi teman-teman nggak usah terlalu khawatir seperti COVID. Karena H3N2 ini sudah beredar lama. Nah, yang kedua yang ingin saya sampaikan, fatality ratenya ini rendah sekali,” kata Budi.
Ia bahkan menyelipkan penjelasan sederhana tentang perilaku virus. Logikanya, sebuah virus 'pengin hidup' juga. “Memang yang tinggi adalah penularannya, penyebarannya itu tinggi. Perilakunya virus itu kalau dia fatality rate-nya tinggi, penyebarannya lambat. Karena virus itu juga pengin hidup. Kalau dia hidup di inangnya, di manusianya, manusianya cepat meninggal, dia juga nggak bisa dapat tempat hidup kan,” tandasnya.
Artikel Terkait
Polisi Kukar Gagalkan Peredaran 1,5 Kg Sabu, Selamatkan 15.000 Orang dari Jerat Narkoba
Pertamina Tegaskan Pendaftaran Pangkalan LPG 3 Kg Gratis, Sebut Informasi Biaya adalah Hoaks
Pemerintah Buka Rekrutmen 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Berstatus Pegawai BUMN
Pemprov Sulsel Godok Mutasi 314 Guru untuk Atasi Ketimpangan Distribusi