Cerita lain datang dari Restiah Nurhalizah. Mahasiswa Desain Mode di UNJ ini didiagnosis Tuli sejak bayi, dengan kondisi pendengaran yang sangat terbatas. Perjuangannya menempuh pendidikan tidak mudah.
Resty menempuh pendidikan di SLB hingga SD, lalu memutuskan masuk sekolah umum mulai SMP. Itu adalah lompatan besar.
"Alhamdulillah, dapat sekolah terbaik terus yang menerima siswa berkebutuhan khusus," kenangnya.
Ibunya, seorang penjahit, dengan rela meninggalkan pekerjaannya untuk mendampingi Resty sekolah. Resty sendiri mengaku tidak nyaman disuruh bicara. Ia lebih lancar berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Baginya, kemampuan verbal bukan tolok ukur kepintaran.
Di bangku kuliah, Resty dibantu oleh relawan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dari Relawan Disabilitas UNJ. Mereka mendampinginya secara sukarela, terutama saat presentasi. Sistem pengajuannya pun cukup cepat, hanya butuh dua hari.
Namun di luar kampus, tantangan masih ada. Di transportasi umum atau fasilitas kesehatan, misalnya, tidak semua orang paham bahasa isyarat. Resty mengakalinya dengan menulis atau mengetik di ponsel. Meski begitu, ia menilai layanan publik sudah mulai ramah.
Masalah lain adalah Alat Bantu Dengar. Dokter menyarankannya, tapi harga yang mencapai Rp13 juta tidak terjangkau. BPJS hanya menanggung pemeriksaan, bukan alatnya. Tapi Resty tak menyerah.
"Kata dokter spesialis telinga... 'Resty kamu hebat bisa [belajar] sampai kuliah biarpun tidak dapat mendengar'," ujarnya menirukan pujian dokter.
Dukungan keluarga, terutama ibu, adalah penyemangat terbesarnya. Keterbatasan bukan halangan baginya untuk tetap aktif, bahkan kerap diundang sebagai narasumber di acara komunitas.
Sebaran Data: Membaca Peta Disabilitas Pendengaran
Lalu, bagaimana peta penyandang disabilitas pendengaran di Indonesia? Data BPS mencatat ada sekitar 22 juta penduduk disabilitas, atau 8,5% dari total populasi. Tapi data spesifik untuk Tuli masih kurang jelas.
BPS membagi disabilitas pendengaran menjadi dua tipe berdasarkan tingkat kesulitan. Tipe 1 mencakup yang mengalami "agak kesulitan" hingga "tidak bisa sama sekali", sementara Tipe 3 hanya untuk kategori "banyak kesulitan" dan "tidak bisa sama sekali".
Pada 2022, Gorontalo jadi provinsi dengan persentase disabilitas pendengaran Tipe 1 tertinggi (2,65%). Sementara Kepulauan Riau terendah (1,02%). Untuk Tipe 3, Yogyakarta mencatat angka tertinggi (0,63%), dan lagi-lagi Kepulauan Riau terendah (0,21%). Data ini penting sebagai bahan evaluasi kebijakan.
Di sisi pendidikan, data Kementerian Pendidikan mencatat 2.366 SLB di Indonesia pada tahun ajaran 2024/2025, dengan total 26.218 siswa Tuli. Jawa Timur punya SLB terbanyak (398 sekolah), sedangkan Papua Pegunungan tidak memiliki SLB sama sekali.
Untuk jumlah murid Tuli, Jawa Barat memimpin dengan 4.381 siswa. Sekali lagi, Papua Pegunungan tercatat tidak memiliki murid Tuli. Data-data ini seperti puzzle, menunjukkan di mana perhatian dan sumber daya harus lebih difokuskan.
Penulis: Safina Azzahra Rona Imani
Artikel Terkait
Membedah Jenazah dalam Islam: Antara Kehormatan dan Keadilan
KPK Geledah Kantor Pajak Jakut, Dugaan Suap Diskon Rp 60 Miliar Terkuak
Menteri Kesehatan Desak Perbaikan Rumah Nakes Sumatera Rampung Sebelum Lebaran
PMI Serahkan 2.000 Ton Bantuan Logistik untuk Ringankan Beban Warga Aceh di Bulan Puasa