Mirip dengan kondisi sekarang, inflasi pada akhir era 70-an juga meroket. Rakyat muak. Mereka jengah dengan modernisasi ekonomi yang gagal, juga kekejaman tangan besi shah dan badan keamanan SAVAK yang terkenal bengis.
Sebelum rezim ayahnya benar-benar jatuh, Reza Pahlavi memilih kabur dari Iran. Dia lalu menetap di AS, dengan cita-cita menjadi pilot pesawat tempur. Konon, dia pernah berniat ikut berperang untuk Irak saat perang dengan Iran meletus di tahun 80-an. Tapi niatnya itu ditolak.
Hidup di pengasingan dilanjutkannya dengan belajar ilmu politik. Dia membangun keluarga di sana, menikah dan dikaruniai tiga anak. Dari kejauhan, Pahlavi terus mengkritik rezim di Tehran. Kritik-kritik tajamnya itu membuatnya populer di kalangan diaspora Iran di luar negeri.
Dukungan yang Tak Kunjung Datang
Di tengah demo yang dipicu krisis ekonomi dan nilai tukar rial yang anjlok, Pahlavi menghadapi kenyataan pahit. Dunia Barat, yang dulu adalah sekutu dekat ayahnya, ternyata tak juga menunjukkan dukungan terbuka padanya. Padahal, Barat terutama Amerika Serikat bukanlah teman dari Republik Islam Iran.
Presiden AS kala itu, Donald Trump, sempat menyatakan simpati pada para demonstran. Tapi soal Pahlavi, dia punya pendapat lain. Trump pernah berujar bahwa pertemuannya dengan putra mahkota terakhir Iran itu "belum tepat waktu".
Sebuah penolakan halus yang mungkin membuat Pahlavi berpikir ulang tentang posisinya. Dukungan dari dalam negeri memang bergelora, tapi pengakuan dari panggung internasional ternyata masih jauh dari genggamannya.
Artikel Terkait
Tiga Eks Petinggi Pertamina Divonis 9-10 Tahun Penjara atas Korupsi Minyak
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan Besok, 27 Februari 2026
Fiorentina Lolos Dramatis Usai Dihajar Hattrick Mazurek di Liga Konferensi Eropa
Gubernur Kaltim Jelaskan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar Ditempatkan di Jakarta