Putra Mahkota Terakhir Iran: Suara dari Pengasingan yang Menggema di Tengah Gelombang Demo

- Senin, 12 Januari 2026 | 16:54 WIB
Putra Mahkota Terakhir Iran: Suara dari Pengasingan yang Menggema di Tengah Gelombang Demo

Mirip dengan kondisi sekarang, inflasi pada akhir era 70-an juga meroket. Rakyat muak. Mereka jengah dengan modernisasi ekonomi yang gagal, juga kekejaman tangan besi shah dan badan keamanan SAVAK yang terkenal bengis.

Sebelum rezim ayahnya benar-benar jatuh, Reza Pahlavi memilih kabur dari Iran. Dia lalu menetap di AS, dengan cita-cita menjadi pilot pesawat tempur. Konon, dia pernah berniat ikut berperang untuk Irak saat perang dengan Iran meletus di tahun 80-an. Tapi niatnya itu ditolak.

Hidup di pengasingan dilanjutkannya dengan belajar ilmu politik. Dia membangun keluarga di sana, menikah dan dikaruniai tiga anak. Dari kejauhan, Pahlavi terus mengkritik rezim di Tehran. Kritik-kritik tajamnya itu membuatnya populer di kalangan diaspora Iran di luar negeri.

Dukungan yang Tak Kunjung Datang

Di tengah demo yang dipicu krisis ekonomi dan nilai tukar rial yang anjlok, Pahlavi menghadapi kenyataan pahit. Dunia Barat, yang dulu adalah sekutu dekat ayahnya, ternyata tak juga menunjukkan dukungan terbuka padanya. Padahal, Barat terutama Amerika Serikat bukanlah teman dari Republik Islam Iran.

Presiden AS kala itu, Donald Trump, sempat menyatakan simpati pada para demonstran. Tapi soal Pahlavi, dia punya pendapat lain. Trump pernah berujar bahwa pertemuannya dengan putra mahkota terakhir Iran itu "belum tepat waktu".

Sebuah penolakan halus yang mungkin membuat Pahlavi berpikir ulang tentang posisinya. Dukungan dari dalam negeri memang bergelora, tapi pengakuan dari panggung internasional ternyata masih jauh dari genggamannya.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar