Di tengah ancaman krisis energi global, dukungan untuk langkah Presiden Prabowo Subianto mulai bermunculan. Salah satunya datang dari Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno. Ia menilai arahan Presiden untuk mempercepat transisi energi bukan hanya tepat, tapi sudah mendesak.
Pernyataan itu ia sampaikan menanggapi pertemuan Prabowo dengan sejumlah tokoh di Hambalang, pertengahan Maret lalu.
"Saya menyambut gembira arahan Presiden Prabowo yang hendak mempercepat transisi energi," ujar Eddy dalam keterangannya, Minggu (22/3/2026).
Menurutnya, pengembangan pembangkit tenaga surya, angin, panas bumi, plus percepatan elektrifikasi transportasi, adalah jalan yang harus segera ditempuh.
"Krisis energi yang ditimbulkan perang di Timur Tengah semakin menyadarkan kita," lanjutnya. Ia tak menampik bahwa ketahanan energi nasional kita masih rentan. Guncangan di panggung global bisa langsung terasa dampaknya di dalam negeri.
Eddy memaparkan, ketergantungan Indonesia pada impor produk migas seperti minyak mentah dan LPG menempatkan kita pada posisi yang rapuh. Begitu pasokan terganggu, efeknya langsung menjalar.
"Jika impor LPG tersendat misalnya, sektor rumah tangga, restoran, perhotelan, dan lainnya tidak dapat melakukan kegiatan memasak," jelasnya.
Faktanya, sekitar 75% kebutuhan LPG nasional masih mengandalkan impor. Karena itulah, konversi ke kompor induksi listrik harus segera digeber.
Di sisi lain, Eddy yang juga Doktor Ilmu Politik UI ini mendukung penuh wacana pensiun dini pembangkit diesel. Alasannya jelas: biaya operasinya selangit, bisa 3-5 kali lebih mahal dari batu bara. Belum lagi emisi karbonnya yang cenderung 'toxic'.
Artikel Terkait
Program Hutan Lestari Pertamina Hidupkan Kembali Ekonomi Warga di Lereng Gunung Agung
Puasa Syawal 2026: Jadwal dan Keutamaan Setara Puasa Setahun
Prabowo: Reformasi Polri Tak Selalui Bergantung pada Komite, Tapi Komitmen Mutlak
Sahroni: KPK Harus Perketat Pengawasan Tahanan Rumah Yaqut