Putra Mahkota Terakhir Iran: Suara dari Pengasingan yang Menggema di Tengah Gelombang Demo

- Senin, 12 Januari 2026 | 16:54 WIB
Putra Mahkota Terakhir Iran: Suara dari Pengasingan yang Menggema di Tengah Gelombang Demo

Gelombang demonstrasi yang melanda Iran belakangan ini menyoroti satu nama yang terus disebut: Reza Pahlavi. Pria berusia 65 tahun ini adalah putra dari sang shah terakhir Iran. Dari tempat pengasingannya di Amerika Serikat, dia tak henti-hentinya menyuarakan dukungan bagi para pengunjuk rasa yang menuntut perubahan rezim.

Dia bahkan mendorong aksi protes agar diperluas. Tujuannya jelas: menjatuhkan pemerintahan Republik Islam yang berkuasa sekarang.

“Kami akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan aparatus represifnya yang usang dan rapuh bertekuk lutut,”

Begitu bunyi salah satu cuitannya di platform X, seperti yang dilaporkan Reuters. Suaranya keras dan penuh keyakinan.

Lalu, Siapa Sebenarnya Reza Pahlavi?

Dia lahir di tahun 1960, di masa kejayaan ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi. Takdirnya seharusnya menjadi penguasa Iran berikutnya. Pada 1967, saat sang ayah resmi dinobatkan, Reza kecil pun diangkat sebagai putra mahkota Kekaisaran Iran.

Namun begitu, semua impian itu runtuh berantakan oleh revolusi Islam 1979. Dinasti Pahlavi tumbang. Banyak faktor yang jadi penyebab, tapi yang paling mencolok adalah kehidupan keluarga kerajaan yang serba mewah. Gaya hidup itu kontras banget dengan kesulitan yang dialami rakyat kebanyakan saat itu.


Halaman:

Komentar