Senin lalu, Presiden Prabowo Subianto melakukan sebuah langkah besar. Ia meresmikan 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Ini bukan sekadar seremoni biasa. Langkah ini disebut-sebut sebagai terobosan nyata pemerintah untuk memutus siklus kemiskinan yang kerap menjerat keluarga-keluarga di lapisan ekonomi paling bawah.
Di hadapan para menteri dan kepala daerah, Prabowo menjelaskan konsep Sekolah Rakyat. Sekolah ini dirancang sebagai asrama dengan fasilitas terbaik, khusus diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga yang benar-benar kesulitan. Anak buruh, petani, bahkan pemulung, menjadi sasaran utamanya.
“Cita-cita saya di akhir masa jabatan tahun 2029, mereka yang berada di kemiskinan ekstrem desil 1 dan 2 bisa kita ubah nasibnya. Kita hilangkan kemiskinan ekstrem di Indonesia,” tegasnya.
Nada pidatonya terasa kritis. Ia menyoroti teori ekonomi neoliberal yang dinilainya hanya menguntungkan segelintir orang di puncak, sementara pemerataan ke bawah kerap terabaikan. Menurut Presiden, negara harus berani ambil langkah-langkah di luar kebiasaan untuk melindungi rakyatnya dari kemelaratan.
Tak cuma Sekolah Rakyat, rencana besar lain juga diumumkan. Dalam waktu dekat, pemerintah akan membuka kampus-kampus baru untuk bidang kedokteran dan teknik. Yang menarik, seluruh biaya pendidikannya akan ditanggung negara. Tidak ada beban biaya bagi mahasiswanya.
“Saya ingin anaknya tukang pemulung bisa jadi insinyur, dokter, pengusaha, hingga jenderal. Mereka tidak boleh bayar, dibayar oleh negara,” ujar Prabowo.
Momen itu terasa lebih emosional ketika ia menyaksikan prestasi siswa Sekolah Rakyat yang berhasil menjuarai olimpiade matematika. Seolah, itulah bukti nyata yang ia tunggu.
Di sisi lain, pemerintah juga mengklaim sejumlah capaian penting hingga akhir tahun 2025. Di tengah ancaman El Nino, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dengan produksi tertinggi sepanjang sejarah. Lalu, program makan bergizi gratis sudah menjangkau 58 juta orang, dengan total 3 miliar porsi terdistribusi. Targetnya tahun depan naik jadi 82 juta jiwa.
Untuk penguatan ekonomi akar rumput, program Koperasi Merah Putih akan dioperasikan 25.000 unit pada Maret-April mendatang. Angka itu ditargetkan melonjak hingga 60.000 unit di penghujung 2026.
Soal Sekolah Rakyat, ambisinya jelas. Pemerintah menargetkan 500 sekolah beroperasi pada 2027. Dengan proyeksi seribu murid per sekolah, maka setengah juta anak dari keluarga prasejahtera berpeluang mengenyam pendidikan berkualitas.
Di akhir pidato, pesannya sederhana namun menyentuh. Prabowo berpesan kepada para siswa untuk tidak pernah merasa rendah diri dengan latar belakang orang tua mereka. Ia meminta para guru untuk menjadi teladan dalam membina “anak-anak negara” ini.
“Jangan malu orang tuamu hanya buruh atau pemulung. Mereka mulia karena bekerja halal. Mereka lebih mulia dari orang pintar tapi koruptor yang mengkhianati bangsa,” pungkasnya.
Artikel Terkait
BMKG: Sebagian Besar Wilayah Sulsel Cerah Berawan, Sejumlah Daerah Berpotensi Hujan Ringan-Sedang
Ana/Trias Taklukan Wakil India, Lolos ke 16 Besar Indonesia Open 2026
Ribuan Ikan Mati Mendadak di Saluran Irigasi Karawang, Warga Berbondong Ambil Ikan Hanyut
Bone Pertahankan Opini WTP dari BPK untuk Ke-11 Kali Berturut-turut