Banjir dan longsor itu bukan alam yang marah. Alam tak punya dendam. Ia cuma menunjukkan akibat. Tanah tanpa akar pasti runtuh. Sungai yang disempitkan dan dikotori akan meluap. Hutan yang disayat kehilangan kemampuan jaga iklim. Bencana adalah bahasa sunyi yang berseru, "Keseimbanganmu sudah kau langgar!"
Yang menyedihkan, di tengah semua luka ini, rumah ibadah tetap ramai. Zikir dan doa terdengar. Tapi kadang, rasanya cinta pada Tuhan cuma berhenti di langit, tak pernah turun menyentuh tanah. Kesalehan jadi urusan ritual pribadi, tanpa keberanian mengoreksi cara kita memperlakukan ciptaan-Nya. Padahal, para sufi bilang dengan tegas: cinta kepada Allah yang sejati pasti melahirkan kasih pada makhluk-Nya. Mustahil seseorang memuji Tuhan siang-malam, tapi tangannya ikut merusak hutan atau diam saat sungai dicemari.
Di titik inilah kita harus jujur. Suara para penceramah, ustaz, dan tokoh agama tentang akhlak lingkungan masih terlalu sayup. Ceramah tentang ibadah personal dan halal-haram makanan begitu nyaring. Tapi begitu masuk soal hutan, tambang, sampah, atau kebijakan rusak, banyak mimbar mendadak sunyi. Seolah merawat bumi bukan urusan iman. Seolah merusak lingkungan bukan dosa yang perlu ditangisi.
Padahal, umat butuh panduan yang jelas. Bahwa buang sampah sembarangan adalah kezaliman kolektif. Bahkan menyetujui proyek yang menghancurkan ruang hidup warga adalah pengkhianatan. Menggunduli hutan demi citra pembangunan tetaplah keliru, meski dibungkus kata "kemajuan". Kalau mimbar-mimbar, majelis taklim, dan ruang dakwah tak berani sentuh ini, lalu dari mana umat dapat kompas akhlak untuk lingkungan?
Pesan untuk para pemegang kuasa, di level mana pun, sebenarnya sederhana. Kekuasaan itu bukan karpet untuk menginjak-injak penderitaan alam. Ia adalah amanah yang kelak dipertanyakan. Legal di atas kertas belum tentu sah di mata moral. Banyak proyek yang "menguntungkan" hari ini, tapi meninggalkan bencana untuk puluhan tahun ke depan.
Kita masih bisa berubah, kok. Asal mau mulai dari arah yang benar. Perlu ada taubat ekologis. Bukan cuma istighfar di bibir, tapi perubahan nyata. Butuh pemimpin yang berani bilang "tidak" pada izin merusak, meski dapat tekanan. Aparat harusnya melindungi hutan dan sungai, bukan melindungi pelanggarnya.
Jika kita kembali memandang alam sebagai "ayat yang hidup", maka pohon tumbang bukan sekadar angka di laporan. Ia akan terasa seperti kehilangan. Sungai tercemar bukan cuma berita, tapi luka yang perih. Dari kepekaan itulah, keberanian akan lahir. Keberanian untuk menghentikan perusakan dan memulai penyembuhan. Karena pada akhirnya, bumi tak butuh kita. Kitalah yang butuh bumi. Dan lebih dalam lagi, iman kita butuh pembuktian bukan cuma di sajadah, tapi juga dalam cara kita menjaga amanah Tuhan yang bernama alam ini.
Artikel Terkait
BNPB Targetkan Huntara Sumut Rampung Sebelum Ramadan 2026
Gunungan Sampah di Cimanggis: Dompet Warga Kempis, Anggaran Membengkak
Nekat Seret Bocah 9 Tahun, Pelaku Pencurian di Medan Marelan Diburu Polisi
Warga Depok dan Jakarta Ubah Sampah Jadi Tabungan dan Pupuk