Rumah-rumah kecil terendam, jalan-jalan lenyap ditelan tanah, sungai berubah pekat dan bau. Udara terasa panas tanpa ampun. Kita sering bertanya, kenapa alam begini? Tapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat: sejak kapan kita berhenti beradab padanya? Kapan persisnya kita mulai memperlakukan hutan, sungai, dan laut layaknya benda mati bisa dipaksa, diperas, lalu ditinggalkan begitu saja? Rasanya, kita sudah terlalu lama memuaskan nafsu serakah tanpa memikirkan tanggung jawab.
Nah, krisis ekologi yang kita hadapi ini sebenarnya bukan cuma soal teknologi atau dana. Akarnya lebih dalam. Ini soal krisis di dalam hati kita sendiri. Cara kita memandang Tuhan, amanah, dan kehidupan. Orang yang punya rasa takut pada Sang Pencipta, biasanya akan malu merusak ciptaan-Nya.
Para sufi sejak dulu sudah mengingatkan: alam ini hidup. Bahkan dalam kitab suci, alam pun bertasbih. Ia adalah cermin dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Coba lihat laut, ia mengajarkan keluasan dan kesabaran. Sungai menunjukkan keikhlasan, mengalir memberi tanpa perlu pujian. Bunga-bunga punya keindahan yang tak mencari panggung. Semuanya mengajarkan tentang keseimbangan.
Namun begitu, kenyataan hari ini sungguh berbeda. Banyak dari kita, termasuk yang punya kuasa, memperlakukan alam bukan sebagai ayat suci, tapi sebagai lahan transaksi belaka. Polanya berulang: izin gampang keluar, terutama untuk kawasan yang seharusnya dilindungi. Hutan di hulu, yang mestinya jadi penahan air, malah dibelah untuk konsesi. Pegunungan, benteng resapan air, ditatah jadi tambang. Semua demi kejar setoran, uang yang harus cepat berputar.
Permainannya kadang terlihat rapi. Dokumen lengkap, rapat-rapat diadakan, konsultasi publik seolah jalan. Tapi coba tanya warga di lapangan. Mereka yang paling terdampak sering cuma jadi penonton. AMDAL dilangkahi, keberatan warga dianggap ganggu, suara ahli dipilah-pilih yang menguntungkan. Bahkan lebih parah lagi, aktivis dan warga yang bersuara kerap dibungkam. Dicap menghambat pembangunan, atau dibuat susah dengan berbagai cara.
Akibatnya, "dosa ekologis" seperti sudah jadi hal biasa. Hutan habis, banjir bandang disebut takdir. Sungai penuh limbah, warga disuruh sabar saat gatal-gatal. Mangrove ditebang untuk beton, abrasi pun merampas rumah nelayan. Vila-vila berdiri di kawasan hijau, lalu longsor datang bak tamu yang diundang.
Lahan gambut dikeringkan, kebakaran datang tiap tahun layaknya rutinitas. Ini bukan cuma salah teknis, lho. Seringnya, ini soal moral yang bobrok. Saat kuasa dipakai untuk menguntungkan segelintir orang dengan mengorbankan hidup banyak orang, itu namanya ketidakadilan. Bahkan pengkhianatan amanah.
Artikel Terkait
BNPB Targetkan Huntara Sumut Rampung Sebelum Ramadan 2026
Gunungan Sampah di Cimanggis: Dompet Warga Kempis, Anggaran Membengkak
Nekat Seret Bocah 9 Tahun, Pelaku Pencurian di Medan Marelan Diburu Polisi
Warga Depok dan Jakarta Ubah Sampah Jadi Tabungan dan Pupuk