Begitu pula dengan yang meresapi 'fama linnar wal qintar', pasti akan berpikir ulang untuk berselingkuh.
Aspek ketiga adalah penguatan karakter dan konsistensi. Ia mengutip satu ayat yang memerintahkan menjaga salat dan terutama salat wustha, serta berdiri untuk Allah dengan khusyuk. "Pesan di baliknya jelas: ketenangan," ucapnya.
"Ketika masalah datang, hal pertama yang wajib dilakukan adalah tenang dulu. Baru setelah pikiran jernih, solusi bisa dicari."
Terakhir, salat adalah regulator emosi lewat latihan kesabaran. "Firman-Nya, 'wasta'inu bis shabri was shalah' jadikan sabar dan salat sebagai penolongmu," katanya.
Nah, sabar di sini bukan berarti pasif. Tapi lebih pada kemampuan untuk melawan rasa bosan dan ingin instan.
Ia memberi contoh nyata. "Seorang ustaz bisa hafal 30 juz Al-Quran karena sabar mengulang puluhan kali. Seorang ahli akuntansi lahir dari kesabaran mengutak-atik rumus. Sebaliknya, pejabat yang baru enam bulan menjabat sudah korupsi? Itu ciri-ciri orang yang tidak sabar," paparnya.
Menutup ceramahnya, Prof. Syafi'i Antonio kembali menegaskan. Keempat pilar itu pengatur waktu, penunjuk arah moral, penguat karakter, dan pengendali emosi adalah kunci untuk 'bermikraj'. Naik level dalam menjalani hidup yang lebih baik dan bermakna.
Artikel Terkait
Gubernur Kaltim Jelaskan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar Ditempatkan di Jakarta
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Semarang Hari Ini, 27 Februari 2026
Kreator Konten di Gowa Didenda Rp1 Miliar karena Siarkan Ilegal BYON Combat
Mahasiswi UIN Suska Riau Diserang Senjata Tajam di Ruang Sidang Kampus