Jadi, demi mendukung pelaku usaha kecil, travelator itu dikorbankan. Dibikin mati suri.
Tapi di sisi lain, apa iya strategi ini berhasil? Awalnya mungkin iya. Kita kasihan, lalu mampir. Beli makanan atau minuman. Tapi lama-lama, rasa "dikhianati" itu muncul. Harganya mahal untuk kantong bandara, ya sudah. Tapi kualitasnya? Jujur, seringkali nggak sesuai. Nasi kotaknya lembek, minuman terlalu manis, atau rasanya begitu-begitu saja.
Alhasil, yang terjadi malah lingkaran setan. Travelator dibangun tapi nggak dipakai, dengan harapan mengalihkan manfaat ke UMKM. Eh, pada kenyataannya, manfaat ke UMKM pun nggak optimal karena rasa kecewa pelanggan.
Jadinya ya begini. Ada fasilitas, tapi nganggur. Ada tujuan mulia, tapi nggak kesampaian. Ruwet banget. Mirip-mirip lah dengan cerita klasik di negeri ini.
(Iqbal Aji Daryono)
Artikel Terkait
Di Balik Gaduh KUHP Baru: Ketika Hukum Berubah Jadi Hantu di Ruang Publik
Gempa Magnitudo 3,5 Guncang Pidie Aceh Pagi Ini
Jakarta Diguyur Hujan Sepanjang Hari, Waspada Petir Mengancam
ASEAN Buka Pintu untuk Mata Uang BRICS, Dominasi Dolar Mulai Tergoyang?