Di tengah hiruk-pikuk Rakernas PDIP hari kedua, dua pimpinan partai menyempatkan diri untuk melaporkan langsung aksi kemanusiaan mereka. Ribka Tjiptaning dan Tri Rismaharini menghadap Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, memberi gambaran tentang kerja lapangan di wilayah bencana Sumatera. Laporan ini disampaikan kepada publik dari Beach City International Stadium, Ancol, Minggu lalu.
Ribka, yang menangani bidang kesehatan, langsung menyelam ke pokok persoalan. Timnya sudah bergerak sejak awal Desember lalu.
“Saya ingin laporkan perkara masalah aksi kemanusiaan di daerah bencana yang ditugaskan oleh Ibu Mega. Kami bergerak sejak tanggal 5 Desember, tim kesehatan ya. ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,” ujar Ribka.
Tak main-main, kekuatan timnya berasal dari berbagai latar. Ada dokter diaspora lulusan China, Kuba, Irlandia, ditambah tenaga medis dalam negeri. Perawat-perawat dari rumah sakit negeri, swasta, hingga Royal Prima Medan turut menguatkan barisan. Bantuan tak cuma tenaga. Menjelang akhir tahun, PDIP mendistribusikan tiga puluh armada ambulans dari Jakarta, dibagi rata untuk tiga provinsi terdampak. Aceh mendapat tambahan satu mobil tangki dan satu mobil komando. Kerja di lapangan pun berjalan setiap hari: pengobatan gratis, trauma healing, sampai mengoperasikan dapur umum.
Namun begitu, di balik upaya yang sudah dilakukan, ada keprihatinan mendalam yang diungkapkan Ribka. Kondisi di sejumlah lokasi, khususnya Lhokseumawe, dinilainya masih memilukan.
“Kami masih sangat sekali prihatin di daerah sana, khususnya di Lhokseumawe yang masih belum masuk bantuan-bantuan masih banyak sekali,” katanya.
Di sisi lain, Risma yang akrab disapa melengkapi laporan dari sudut penanganan darurat dan logistik. Ia bercerita tentang perintah Megawati yang datang di hari pertama bencana, meski situasi saat itu masih sangat tidak jelas.
“Jadi pada hari pertama bencana, Ibu langsung memerintahkan saya untuk segera berangkat untuk menangani, meskipun saat itu kita juga tidak tahu karena banyak jalan yang putus,” ujar Risma.
Fokus utama sederhana tapi krusial: memastikan tidak ada warga yang kelaparan. Hari kedua, timnya sudah berangkat membawa bantuan seadanya. Menurutnya, kunci dari semua ini adalah kerja sama. Mereka bergandengan tangan dengan struktur partai di daerah, DPD dan DPC di Aceh, Sumbar, dan Sumut, serta tentu saja masyarakat setempat.
Langkah-langkah yang diambil cukup komprehensif. Selain mendirikan minimal dua dapur umum per kabupaten, tim juga memikirkan air bersih, penerangan, bahkan jalur evakuasi untuk antisipasi bencana susulan.
“Selain mereka untuk tidur, mereka juga butuh penerangan karena pada saat malam seringkali terjadi galodo, di mana air dengan lumpur dan batu turun. Maka kita membuat penerangan dan jalur-jalur pelarian untuk mereka bisa menyelamatkan diri dengan aman,” sambung dia.
Risma juga menyoroti peran kader BAGUNA yang punya keahlian beragam. Ada tukang batu, tukang listrik, semua dikerahkan untuk perbaikan rumah hingga pemasangan jaringan.
“Alhamdulillah di BAGUNA ini macam-macam... Itu yang kita gerakan karena apapun harus ada teknologi, karena kami ngambil air kadang sepanjang 3 kilometer lebih untuk kebutuhan mereka,” pungkasnya.
Laporan dari dua menteri ini menyiratkan satu hal: bantuan untuk korban bencana di Sumatera bukan kerja instan. Butuh kolaborasi, ketekunan, dan upaya menjangkau mereka yang paling terpencil.
Artikel Terkait
Raffi Ahmad Penuhi Amanah Terakhir Jupe, Bantu Ibunda yang Terpuruk Ekonomi
Ketua Ombudsman RI Ditahan sebagai Tersangka Kasus Korupsi Nikel
Unhas Tanggapi Laporan Pungli Terhadap Pengusaha Rental Papan Ucapan di Area Kampus
Warga Jemur Gabah di Badan Jalan Bypass Mamminasata, Lalu Lintas Tetap Ramai