Di sisi lain, kondisi perekonomian Gayo Lues secara umum mulai menunjukkan denyut nadi. Pasar, warung, hingga hotel sudah beroperasi lagi. Stok BBM dan gas elpiji juga terpantau cukup. Tapi, ceritanya berbeda di beberapa titik. Masih ada kampung-kampung yang rumah warganya rusak parah.
Untuk itu, Mendagri mendesak Bupati setempat segera menyelesaikan pendataan kerusakan. Skema bantuannya sudah jelas: Rp15 juta untuk rusak ringan, Rp30 juta untuk sedang, dan Rp60 juta untuk berat.
“Tapi untuk kategori berat, ada kendala lain,” ungkapnya.
“Mau dibangunkan hunian tetap? Di Gayo Lues, tanah pemerintah nyaris tak ada. Perlu dana pembebasan lahan. Bupati mengajukan anggaran sekitar 25 miliar untuk ini. Nanti akan saya sampaikan ke Menteri PUPR,” papar Tito.
Tak cuma soal fisik, bantuan sosial juga disiapkan. Masyarakat yang ekonominya terpukul bisa diusulkan masuk program seperti PKH, Prakerja, atau PBI BPJS Kesehatan. “Itu wewenang Pak Bupati untuk mengusulkan,” tambahnya.
Kabar baiknya, akses jalan darat sudah berangsur pulih. Distribusi logistik pun mulai lancar. Soal permintaan beras dari daerah, Tito mengaku sudah berkoordinasi dengan Bulog. Tapi ia menegaskan, beras bantuan bencana sifatnya gratis.
“Beda dengan beras SPHP untuk stabilisasi harga, itu kan harganya Rp12.000 per kilo. Kalau untuk bencana, negara yang memberi. Gratis,” tandasnya menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Travelator YIA Mati Suri, Diduga Demi Lariskan Warung UMKM
Menjaga Marwah Bangsa: Ketika Keluhuran Batin Menjadi Fondasi Negara
Jalan Tol Menuju IKN Ambruk, Diduga Akibat Hujan Deras dan Pergerakan Tanah
Dunia Waspada: Langkah Trump ke Venezuela Buka Luka Lama Pengaruh Global AS