InfraNexia Resmi Dilahirkan, Telkom Pecah Lini Bisnis Fiber Rp90 Triliun

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 16:55 WIB
InfraNexia Resmi Dilahirkan, Telkom Pecah Lini Bisnis Fiber Rp90 Triliun

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom, Jumat (12/12/2025) lalu, akhirnya menghasilkan keputusan penting. Para pemegang saham independen menyetujui pemisahan bisnis Wholesale Fiber Connectivity ke dalam sebuah entitas baru bernama PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia.

Persetujuan ini memang krusial. Soalnya, transaksi ini masuk kategori afiliasi, sehingga butuh lampu hijau khusus dari pemegang saham independen sesuai aturan OJK. Dan mereka memberikannya.

Langkah spin-off ini bukan sekadar aksi korporasi biasa. Ini adalah bagian sentral dari strategi transformasi TLKM 30 yang sedang digenjot Telkom. Intinya, perusahaan ingin struktur usahanya lebih fokus dan lincah. Di sisi lain, lahirnya InfraNexia diharapkan jadi mesin pertumbuhan baru. Caranya? Dengan mengoptimalkan aset infrastruktur fiber yang ada dan meningkatkan kualitas layanan digital.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada para pemangku kepentingan atas dukungan serta kepercayaan yang senantiasa diberikan,” ujar Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini.

“Persetujuan ini memperkuat agenda transformasi perseroan untuk membangun struktur usaha yang lebih fokus dan tangkas,” tambahnya.

Dian meyakini, langkah ini akan memungkinkan Telkom berkontribusi lebih besar bagi digitalisasi nasional. Manfaatnya dirasakan banyak pihak, mulai dari perusahaan sendiri hingga negara.

Lalu, sebesar apa InfraNexia nantinya? Fase pertama spin-off akan menempatkan lebih dari 50% total infrastruktur fiber Telkom di bawah kendali InfraNexia. Itu mencakup segmen akses, agregasi, backbone, dan pendukungnya. Targetnya, fase kedua rampung di 2026 dengan total nilai aset mencapai angka fantastis: Rp90 triliun.

Peluangnya jelas besar. Pasar membutuhkan dukungan konektivitas digital yang kuat, dan InfraNexia diposisikan untuk menjawabnya. Mereka akan fokus mengembangkan bisnis fiber, mencari efisiensi biaya, dan membuka peluang kemitraan strategis.

Tak cuma soal InfraNexia, RUPSLB itu juga membahas hal lain. Pemegang saham menyetujui penugasan dari pemerintah kepada Telkom untuk mengoperasikan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS). Tugas ini berlangsung selama masa transisi, menunggu PDN pemerintah beroperasi penuh. Komitmen Telkom jelas: menjaga kedaulatan data negara dan memastikan layanan digital pemerintah tetap jalan.

Susunan dewan dan direksi pun mengalami perubahan. Hasilnya, Angga Raka Prabowo tetap duduk sebagai Komisaris Utama. Sementara Dian Siswarini masih memimpin jajaran direksi sebagai Direktur Utama.

Semua keputusan ini mengerucut pada satu tujuan: mempercepat transformasi Telkom menuju strategic holding. Strategi TLKM 30 mereka bertumpu pada empat pilar. Mulai dari peningkatan operasional, penataan portofolio bisnis, unlocking value aset infrastruktur yang salah satunya lewat InfraNexia hingga transisi ke holding company.

Pada akhirnya, optimisme itu yang coba ditularkan. Dengan struktur bisnis yang diperkuat dan fokus pada pembangunan infrastruktur digital, Telkom ingin tetap menjadi penggerak utama ekosistem digital di Indonesia. Perjalanan transformasinya masih panjang, tapi langkah awal lewat RUPSLB ini sudah dianggap solid.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler