Di Gereja Baciro, Perbedaan Ditangguhkan untuk Doa Bersama

- Minggu, 11 Januari 2026 | 16:36 WIB
Di Gereja Baciro, Perbedaan Ditangguhkan untuk Doa Bersama

Meramu Perbedaan dalam Satu Ibadah

Lantas, seperti apa ibadah ekumenis itu? Perbedaan tata cara beribadah tidak dihilangkan begitu saja, melainkan diramu dengan cermat. Liturgi yang dipakai bersifat umum tidak ada Ekaristi Katolik atau tata ibadah khas denominasi Protestan tertentu. Yang menjadi pusat adalah doa bersama, pembacaan sabda, renungan, dan tentu saja, nyanyian.

“Lagu-lagunya lagu rohani populer yang bisa dinyanyikan semua,” jelas Pendeta Jozef. “Bahkan ada lagu-lagu yang sebenarnya sama, hanya liriknya sedikit berbeda di Katolik dan Protestan.”

Untuk ibadah puncak nanti, panitia telah menyiapkan paduan suara yang juga lintas komunitas. Akan ada suara dari OMK Paroki Baciro, Paroki HKTY Pugeran, SMA Bopkri 2, hingga anak-anak dari GKJ Gondokusuman. Mereka menargetkan sekitar 1.000 umat akan memadati gereja pada 21 Januari nanti.

Pengalaman Pertama yang Berkesan

Bagi beberapa peserta muda, malam itu meninggalkan kesan yang sangat personal.

“Jujur ini pertama kali aku ikut ibadah ekumenis,” aku Winih, siswi SMA Stella Duce 1 asal Bogor. “Aku baru tahu kalau Katolik dan Kristen bisa kolaborasi seperti ini.”

Sergio, siswa dari SMA Stella Duce 2 asal Pekanbaru, merasakan hal serupa.

“Kami belajar bahwa perbedaan itu tidak menutup kemungkinan bahwa kita satu saudara,” ujarnya. “Kita menyembah Tuhan yang sama, meski caranya berbeda.”

Romo Martinus melihat momen-momen seperti inilah yang menjadi inti segalanya.

“Ada umat yang berkata, ‘Ini pertama kali saya menginjakkan kaki di gereja Katolik,’ atau sebaliknya,” katanya. “Yang diperpendek bukan jarak fisik, tapi jarak hati.”

Tidak Cukup Hanya di Dalam Gereja

Namun begitu, baik Romo Martinus maupun Pendeta Jozef sepakat bahwa ekumenisme tidak boleh berhenti di pintu gereja. Semangatnya justru harus diuji di ruang publik yang lebih keras.

“Oikumene bukan hanya soal berdoa dan bernyanyi,” tegas Pendeta Jozef. “Tapi bagaimana gereja-gereja bergerak bersama menghadapi masalah nyata di masyarakat.”

Isu lingkungan, ketidakadilan sosial, kemiskinan di situlah kerja sama sesungguhnya ditunggu.

Di Yogyakarta, kota yang plural dan penuh dinamika, Pekan Doa Sedunia ini menjadi pengingat yang lembut. Persaudaraan lintas iman bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana: duduk dalam satu ruangan, saling mendengarkan, dan mengangkat suara dalam doa yang sama. Dari titik itulah, harapannya, kesatuan itu tak lagi jadi sekadar simbol. Ia bisa benar-benar hidup dan menjelma menjadi aksi nyata.


Halaman:

Komentar