Agama atau Bius Massal? Ketika Ibadah Hanya Menenangkan, Bukan Membela

- Minggu, 11 Januari 2026 | 13:20 WIB
Agama atau Bius Massal? Ketika Ibadah Hanya Menenangkan, Bukan Membela

✍🏻 Balqis Humaira

Begini. Sebelum kita bahas soal agama yang dipakai buat bikin bangsa ini nggak maju-maju, lebih baik kita ngomong jujur dulu. Kita ini hidup di bawah kendali sistem yang rakus. Bukan cuma soal duit, lho. Tapi juga cara berpikir kita semua.

Tandanya? Bisa dilihat di mana-mana.

Negara kita kaya. Sumber daya alam melimpah ruah. Tapi hidup rakyatnya? Seperti numpang saja. Tanah subur, laut luas, tambang bertebaran. Tapi yang akhirnya kenyang dan makmur cuma segelintir pengusaha dan konglomerat. Rakyat kecil yang banting tulang, sementara hasilnya dipanen oleh mereka yang punya modal besar.

Coba lihat harga properti sekarang. Gila-gilaan. Gaji bulanan? Jangan ditanya, susah buat memenuhi kebutuhan pokok aja.

Bekerja sepuluh jam sehari masih harus pusing mikirin besok makan apa. Sakit sedikit, was-was sama BPJS. Mau sekolahin anak, pusing sama biaya. Bahkan buat nikah aja, banyak yang harus berutang dulu.

Di sisi lain, ada segelintir orang yang hartanya menumpuk sampai-sampai bingung mau disimpan di mana. Ini bukan sebuah kebetulan, ya. Ini adalah sistem yang memang dirancang begitu.

Sistem yang membuat kekayaan cuma mengalir ke atas, dan jarang sekali menetes ke bawah. Sistem yang membuat kita, rakyat kecil, saling sikut berebut remah-remah. Sementara para pemilik modal justru saling berjabat tangan dan berkolusi.

Yang aneh, di tengah ketimpangan yang sudah kelewat batas ini, kemarahan rakyat jarang sekali diarahkan ke sistem. Kita malah lebih sering menyalahkan diri sendiri.

“Ah, mungkin saya yang kurang pintar.”

“Mungkin saya kurang berusaha keras.”

“Mungkin ini memang sudah takdir saya.”

Nah, di sinilah peran agama seringkali masuk. Bukan sebagai pembebas, melainkan sebagai obat penenang yang manjur.

Kamu capek? Disuruh sabar. Kamu miskin? Disuruh ikhlas. Kamu diperas haknya? Disuruh bersyukur saja. Semua nasihat itu dibungkus rapi dengan dalil-dalil agama.

“Dunia ini cuma sementara.”

“Yang penting adalah kehidupan akhirat.”

“Rezeki sudah ada yang mengatur.”

Kalau dipisahkan dari konteksnya, nasihat-nasihat itu memang tidak salah. Tapi dalam situasi ketidakadilan yang bersifat struktural, kata-kata itu berubah fungsi. Menjadi semacam bius massal yang membuat kita teler dan menerima saja keadaan.

Ibaratnya, kamu patah tulang, tapi sang dokter cuma bilang, “Coba sabar ya, ini ujian dari Tuhan.” Itu namanya konyol. Yang kamu butuhkan adalah tindakan operasi, bukan wejangan motivasi.

Mari kita lihat kenyataannya. Di negara yang dikuasai kapitalisme, polanya selalu sama: orang kaya semakin kebal hukum, sementara orang miskin malah hafal pasal-pasal pidana.


Halaman:

Komentar