Dukungan Buta pada Pemimpin yang Bohong, Ikut Tanggung Jawabkah Kita?

- Minggu, 11 Januari 2026 | 13:00 WIB
Dukungan Buta pada Pemimpin yang Bohong, Ikut Tanggung Jawabkah Kita?

Ketika Pemimpin Berbohong, Apa Tanggung Jawab Pengikutnya?

~Prof. Dr. Quraish Shihab

Pernyataan beliau cukup tegas dan membuat kita berpikir ulang. Intinya begini: kalau seorang pemimpin sudah terbukti berbohong, lalu kita sebagai pengikut masih saja percaya dan mendukungnya, maka kita pun ikut menanggung beban. Kok bisa?

“Sebenarnya, kalau pemimpin berbohong, maka pengikutnya yang percaya pun terkena siksa. Kenapa? Karena dia percaya kebohongannya, sehingga dia mengikuti.”

Jadi, jangan pernah mengira kita bisa lepas tangan begitu saja. Menurut Quraish Shihab, dukungan buta kepada pemimpin yang kita tahu salah justru memperkuat posisinya.

“Jangan duga kalau Anda mengikuti satu pemimpin yang Anda tahu dia berbohong, Anda bebas dari tanggung jawab.”

Logikanya sederhana, tapi dampaknya dalam. Dengan mendukung, secara tidak langsung kita memberi kekuatan pada pemimpin itu untuk terus bertahan. Kekuatan itu kan datang dari kita, rakyat atau pengikutnya. Nah, kalau kita tetap diam atau malah membela, berarti kita ikut serta mengukuhkan semua kebohongan dan penyimpangan yang dilakukannya.

“Karena mengukuhkan seorang pemimpin yang Anda anggap salah, memberikan dia kekuatan untuk tetap memimpin, dan kekuatan itu bersumber dari Anda yang mendukungnya, sehingga kebohongannya, kedurhakaannya, Anda ikut mengukuhkan kedurhakaan dan kebohongannya.”

Poinnya jelas: dalam kepemimpinan, tanggung jawab itu tidak satu arah. Ada hubungan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin. Kalau kita abai, ya kita ikut bersalah.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar