Guru Besar Unair Ingatkan Bahaya Pemimpin Lanjut Usia: Demokrasi Bisa Bergeser ke Otoriter
Usia bukan sekadar angka. Bagi Prof. Henri Subiakto, Guru Besar Universitas Airlangga, usia seorang pemimpin punya korelasi langsung dengan gaya kepemimpinannya dan ini bukan hal sepele. Menurutnya, pemimpin yang sudah memasuki usia senja seringkali punya kecenderungan psikologis yang khas: lebih ingin didengarkan daripada mendengar.
“Kecenderungan orang yang sudah tua itu ingin bicara dan didengarkan,” ujar Henri, dalam pernyataannya pada Ahad lalu.
“Walaupun lawan bicara mungkin bosan atau tidak tertarik, tetap saja ingin bercerita atau menasihati.”
Nah, masalahnya muncul ketika pola ini terbawa ke panggung kekuasaan. Keinginan untuk diakui dan merasa berguna itu, lanjut Henri, kerap membuat komunikasi jadi timpang. Kesediaan untuk menyimak perlahan tergerus, digantikan oleh hasrat untuk menumpahkan pengalaman masa lalu. Padahal, pengalaman itu belum tentu lagi relevan dengan realitas generasi muda sekarang yang bergerak begitu cepat.
Bayangkan jika ini terjadi pada pucuk pimpinan negara. Risikonya jelas: kebijakan menjadi kaku, tidak adaptif, dan cenderung tertutup dari kritik. Pemimpin seperti ini berpotensi besar mengabaikan masukan, karena merasa paling tahu berdasarkan jam terbangnya yang panjang.
“Makanya kalau memilih pemimpin jangan yang sudah terlalu tua,” tegas Henri. “Biasanya akan susah diminta mendengarkan dan menerima masukan.”
Tapi, jangan salah paham. Henri sama sekali tidak memuja-muja usia muda. Ia justru mengkritik fenomena anak muda yang tampaknya progresif, namun sebenarnya kemajuannya “dikarbit”. Mereka maju bukan karena kemampuan mandiri yang teruji, melainkan karena didorong oleh kekuatan besar biasanya orang tua atau kekuatan politik di belakangnya.
Lalu, seperti apa pemimpin ideal menurutnya? Sosok yang berjiwa muda. Terbuka. Dan yang penting, matang karena pengalaman dan studi serius yang dilaluinya sendiri, bukan karena warisan atau koneksi.
“Harus dicari yang masih berjiwa muda, tapi maju karena pengalaman mandiri dan teruji dalam studi. Bukan asal muda atau sekadar tampak progresif,” jelasnya.
Di sisi lain, Henri juga mengakui bahwa tidak semua pemimpin senior itu kolot. Ada juga yang justru matang karena perjalanan karirnya, tetap bisa mengikuti zaman, dan yang terpenting, mau mendengarkan. Namun begitu, ia melihat tren global yang patut diwaspadai.
Ambil contoh Amerika Serikat. Menurut pengamatannya, kepemimpinan yang terlalu tua berpotensi menciptakan paradoks yang berbahaya.
“Punya presiden terlalu tua, seperti Amerika Serikat sekarang, pemerintahannya bersistem demokrasi tapi substansinya cenderung otoriter,” katanya.
“Banyak kebijakan mengabaikan masukan karena tidak hirau terhadap dunia yang sudah berubah cepat.”
Peringatannya jelas: ketika pemimpin berhenti mendengar, demokrasi perlahan bisa melenceng. Bukan karena sistemnya yang berubah, tapi karena substansinya mengering. Dan di era yang serba berkecepatan tinggi ini, telinga yang tertutup adalah sebuah kemewahan yang tak bisa kita bayar.
Artikel Terkait
Ruben Onsu Hentikan Nafkah ke Sarwendah karena Tak Dapat Akses Temui Anak
Ledakan Bom Peninggalan Perang Dunia II di Biak Tewaskan Lima Orang, 55 Warga Mengungsi
Polisi Bekuk Komplotan Pembegal Truk di Maros, Target Empat Lokasi
Timnas Putri Indonesia Umumkan 25 Pemain untuk Garuda Champion Series 2026, Diperkuat Diaspora