Kunci Ekonomi 2026: Kemkeu dan BI Harus Kompak di Waktu yang Tepat

- Minggu, 11 Januari 2026 | 09:25 WIB
Kunci Ekonomi 2026: Kemkeu dan BI Harus Kompak di Waktu yang Tepat

Jakarta – Menjelang tahun 2026, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6 persen bukanlah angka yang mudah. Untuk mencapainya, ada satu pelajaran krusial yang harus diambil dari pengalaman 2025 lalu. Menurut analisis dari peneliti GREAT Institute, kunci utamanya terletak pada koordinasi yang lebih tepat waktu dan solid antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers Outlook Economic 2026, Sabtu (10/1).

Adrian Nalendra Perwira, salah satu peneliti, menekankan poin tersebut. Ia bilang, keselarasan antara kebijakan fiskal dan moneter bukan cuma soal tujuan, tapi juga soal waktu eksekusinya.

"Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia itu secara waktu dan kepentingan harus selaras," tegas Adrian, menanggapi pertanyaan sejumlah wartawan.

Ia lalu memberi contoh nyata. Katakanlah pemerintah, lewat Kemkeu, sedang berupaya menggelontorkan stimulus fiskal untuk memompa ekonomi. Nah, pada momen yang sama, langkah BI harus mendukung upaya itu. Bukan malah bersikap kontraktif, seperti yang sempat terjadi dengan pertumbuhan kredit di tahun 2025 lalu. Situasi yang bertolak belakang seperti itu justru bisa memupus dampak positif dari stimulus yang diberikan.

"Pelajaran penting dari kami untuk koordinasi penyeimbang ini adalah terkait dengan timing yang harus tepat serta koordinasi terkait dengan implementasi kebijakan," jelasnya.

Lantas, bagaimana bentuk koordinasi ideal itu? Di satu sisi, Kementerian Keuangan dituntut untuk tetap disiplin. Mereka harus menjaga koridor fiskal, mengelola rasio utang di angka sekitar 45 persen, dan melakukan manajemen utang dengan prinsip yang sehat.

Di sisi lain, peran Bank Indonesia tak kalah vital. Sebagai garda terdepan dari sisi moneter, BI bertugas menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Keduanya harus bergerak dalam irama yang sama. Bila salah satu mendahului atau tertinggal, target pertumbuhan yang ambisius itu bisa jadi sekadar angka di atas kertas.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar