Makanya, ia gampang banget dibaca secara literal. Dan kalau udah dibaca literal, ya absurditas memang bakal keliatan kayak niat jahat.
Tapi, kesalahan membaca bukan bukti kesalahan mencipta. Itu cuma nunjukin bahwa jarak antara karya dan publik belum disiapkan.
Apalagi di ruang digital kayak sekarang yang suka banget sama potongan pendek, konteks yang terlepas, dan reaksi cepat karya berlapis hampir selalu kalah sama pembacaan yang paling dangkal.
Di situlah absurditas sering dikorbankan, atas nama ketertiban.
Dari Sekadar Hiburan, Lalu Jadi Simbol
Yang menarik, begitu sebuah karya diseret ke ruang hukum atau moral kolektif, ia berhenti jadi milik penciptanya. Ia berubah jadi simbol.
Pada titik ini, pertanyaan “apakah ini lucu?” jadi nggak relevan lagi. Yang diperdebatkan bukan estetikanya, tapi hak untuk mengatakannya.
Ironisnya, justru di sinilah absurditasnya terkonfirmasi: karya yang awalnya cuma menertawakan ketegangan sosial, malah berakhir memproduksi ketegangan sosial yang beneran nyata.
Bukan karena karyanya yang berlebihan, tapi karena reaksi terhadapnya nggak proporsional.
Kenapa Sih Kita Takut Sama Bahasa yang Nggak Jinak?
Masyarakat kita cenderung lebih suka kritik yang jelas arahnya, sopan nadanya, dan bisa ditanggapi dengan pernyataan resmi. Kadang ada juga yang nyeletuk, ngapain mengkritik kalau nggak kasih solusi… well, so what?
Absurditas menolak semua itu. Ia nggak bisa dipatahin dengan klarifikasi. Nggak bisa ditenangin dengan imbauan.
Sebab, ia nggak sedang berdebat. Ia sedang menunjukkan absurditas itu sendiri.
Maka, jalan pintasnya ya dengan nyebut itu cuma gimmick. Label ini bekerja kayak penutup telinga: praktis, cepat, dan yang pasti… menenangkan.
Sebelum ambil kesimpulan, ada kutipan menarik dari sebuah editorial yang layak dipertimbangkan.
Kalau sudah baca, semoga makin paham. Dan kini, inilah kesimpulan yang nggak mengikat.
Apakah Mens Rea itu absurdis? Iya, dalam arti ia pake ketidakmasukakalan sebagai bahasa kritik.
Apakah ia cuma gimmick? Hanya jika kita nuntut semua kritik harus bicara dengan cara yang sama.
Masalahnya nggak cuma pada karyanya semata, tapi lebih pada kesiapan kita nerima bentuk kritik yang nggak familiar.
Absurditas selalu keliatan berlebihan di masyarakat yang terbiasa sama kepastian. Dan humor yang nggak mau cuma menghibur akan selalu dianggap melampaui batas.
Tapi, sejarah seni udah nunjukin satu hal yang sederhana: yang hari ini kita sebut gimmick, seringkali cuma bahasa yang datang terlalu cepat.
Dan ketidaknyamanan kita? Mungkin itu bukan tanda kalau karya itu kosong. Melainkan tanda bahwa ia sedang bekerja dengan cara yang belum sepenuhnya kita kuasai.
Tabik.
Aendra Medita, penulis seni dan pernah kuliah jurusan Teater
Artikel Terkait
Meteo MSN: Andalan Baru untuk Menaklukkan Cuaca yang Tak Terduga
Dokter Tifa Sindir Orang Hina Usai Tersangka Kasus Ijazah Sowan ke Jokowi
Pandji Buka Suara Soal Anies yang Lolos dari Sindiran di Spesial Netflix
Momen Metal dan Ciuman Hangat: Potret Keluarga Megawati di Tengah Rakernas PDIP