Kondisi ini membuat IRGC dan semua unsur keamanan tetap dalam siaga tinggi. Fokus mereka bukan cuma mengawasi demo, tapi juga mengawasi pergerakan musuh yang sewaktu-waktu bisa melancarkan serangan.
Respons dari AS, Israel, dan sejumlah negara Eropa pun datang. Mereka mengecam pemerintah Iran dan menyatakan dukungan bagi para demonstran. Bagi banyak pengamat, ini adalah potret standar ganda yang telanjang. Mereka diam melihat kebrutalan Israel di Gaza, bahkan juga kerap menangani demonstran di negara sendiri dengan keras, tapi begitu vokal menyerang Iran yang sedang memberantas agen bayaran asing.
Pemandangan seperti ini, bagi sebagian kalangan di Iran, mencerminkan mentalitas yang problematik di kalangan elit politik Barat.
Ada desas-desus bahwa Donald Trump, Netanyahu, dan sekutu-sekutunya sebenarnya ingin mencari dukungan dari kalangan tentara atau jenderal Iran yang mungkin bersedia berkhianat. Tapi sejauh ini, upaya itu tampaknya mentah. Angkatan bersenjata Iran terlihat masih solid mendukung pemimpin tertinggi mereka dan operasi pemulihan keamanan.
Dukungan juga mengalir dari apa yang disebut "Axis of Resistance" di Lebanon, Gaza, dan wilayah lain. Mereka mendorong pemerintah Iran untuk segera menstabilkan keadaan dan melanjutkan agenda perbaikan ekonomi dan sosial hal yang sebenarnya juga diinginkan oleh para demonstran yang tulus di awal.
Seperti upaya-upaya sebelumnya, langkah AS, Israel, dan Eropa untuk menggoyang Iran kemungkinan besar akan berakhir dengan frustrasi yang sama. Sejarah tampaknya berulang.
(Tengku Zulkifli Usman)
Artikel Terkait
Tanggul Jebol, Banjir Setengah Meter Rendam Puluhan Rumah di Baros
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake
Gus Irfan Ingatkan Petugas Haji: Layani Jemaah, Bukan Cuma Nebeng Ibadah