Gus Irfan Ingatkan Petugas Haji: Layani Jemaah, Bukan Cuma Nebeng Ibadah

- Minggu, 11 Januari 2026 | 22:42 WIB
Gus Irfan Ingatkan Petugas Haji: Layani Jemaah, Bukan Cuma Nebeng Ibadah

Di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, suasana Minggu (11/1) pagi terasa berbeda. Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Irfan, berdiri tegas di hadapan lebih dari 1.600 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Pusat. Pesannya jelas: tahun 2026 nanti adalah momen krusial. Saatnya penguatan layanan haji nasional benar-benar diuji.

Menurutnya, tantangan ke depan tidak main-main. Regulasi berubah, sistem di Arab Saudi terus disesuaikan, dan karakter jemaah pun semakin beragam. Mulai dari usia, kondisi kesehatan, hingga latar belakang sosial mereka.

"Semua ini," kata Gus Irfan, "menuntut kesiapan petugas yang lebih adaptif, profesional, dan tentu saja, berorientasi pada solusi."

Namun begitu, ada satu hal yang ia tekankan lebih dari sekadar adaptasi. Orientasi utama para petugas haruslah melayani jemaah. Titik. Jangan sampai niatnya malah bergeser.

"Saudara sekalian, jangan sampai punya pikiran kita berangkat cuma untuk nebeng haji," ucapnya tegas.

"Niatkanlah berangkat sebagai petugas haji. Sebagai pelayan tamu-tamu Allah."

Ia melanjutkan, peluang untuk ibadah tentu tetap ada. Tapi jika dihadapkan pada pilihan yang sulit, mana yang harus didahulukan, jawabannya sudah pasti.

"Jika pada satu saat ada pilihan, apakah harus menjalankan ritual haji ataukah harus layani jemaah, sudah jelas pilihannya: layani jemaah," tegas Gus Irfan.

Ia pun memberikan contoh yang sangat konkret. Bayangkan, saat seorang petugas bersiap untuk ibadah, tiba-tiba ada jemaah yang membutuhkan pertolongan. Apa yang harus dilakukan?

"Tunda ibadahnya. Tolong jemaah terlebih dahulu," pesannya.

Gus Irfan bahkan menyisipkan bahasa Jawa untuk penekanan. "Demikian juga sehari-hari. Ketika mau berangkat, panjenengan mau salat di Masjidil Haram, terus bilang 'Sik, saya mau salat dulu'? No way."

"Layani jemaah dulu," tutupnya dengan nada yang tak bisa ditawar.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar