Cangkruk: Ritme Pelan yang Menjaga Kediri Tetap Utuh

- Minggu, 11 Januari 2026 | 06:06 WIB
Cangkruk: Ritme Pelan yang Menjaga Kediri Tetap Utuh

Dua sales kanvas itu duduk santai di bangku kayu panjang. Motor bebek mereka, yang penuh kardus, berteduh di bawah pohon kersen. Jaket parasut berdebu sudah dibuka ritsletingnya, biar hawa dingin dari es teh plastik bisa meredam gerah. Di atas meja, piring berisi gorengan hangat jadi rebutan sementara mereka saling berkelakar.

“Targetmu kurang piro, Le?” tanya yang lebih tua, sambil mencocol tahu ke sambal petis.

“Kacek titik, Mas. Yang penting dicipoti sithik-sithik, sing penting kumpul,” jawab rekannya sambil tertawa renyah.

Meski peluh bercucuran, suasana jadi cair begitu pemilik warung ikut menyahut guyonan dari balik rombong. Mereka tak lagi bicara omzet. Cuma saling lempar tawa. Beban target toko seolah hilang begitu saja, tertiup angin pematang.

Di warung seperti ini, orang duduk bukan untuk menyelesaikan apa-apa. Mereka juga tidak sedang benar-benar melarikan diri. Intinya cuma memberi ruang pada jeda. Pada tubuh yang panas, pikiran yang penuh, dan hari yang masih terasa panjang. Di luar, kota terus bergerak. Tapi di sini, kecepatannya diturunkan sebentar. Agar nanti bisa berjalan lagi dengan lebih utuh.

Pemandangan semacam ini gampang ditemui di banyak sudut Kediri. Muncul begitu saja di bawah rindangnya pohon atau di tepi gang yang dilalui orang setiap hari. Tak ada yang merasa aneh melihat orang berhenti dan duduk berlama-lama. Seolah kota ini memang menyediakan ruang khusus untuk melepas penat, bahkan di jam-jam yang biasanya dianggap sibuk.

Kebiasaan duduk semacam itu punya namanya sendiri di sini. Orang menyebutnya "cangkruk". Sebuah kata yang tak pernah dijelaskan panjang lebar, karena semua orang sudah tahu rasanya. Diucapkan dengan santai, sering sambil tersenyum, seolah tidak sedang menyebut hal yang penting. Padahal justru sebaliknya.

Ajakan untuk "cangkruk" jarang terdengar resmi. Tak ada kalimat pembuka yang rapi. Kadang cuma anggukan kepala, sapaan singkat, atau kalimat pendek, “Mampir sek.” Maknanya lebih dekat pada berbagi waktu ketimbang membuat janji. Tak ada kepastian berapa lama, tak ada agenda yang harus dibicarakan. Datang ya datang, pergi ya pergi.

Istilah ini terasa beda dengan “nongkrong” yang belakangan lebih sering dipakai. Bukan soal mana yang lebih baik, tapi logika di baliknya tidak sama. "Cangkruk" tidak menuntut alasan kenapa orang duduk lama. Ia juga tak memerlukan tempat tertentu untuk sah disebut terjadi. Selama ada orang dan ada waktu yang dilonggarkan, "cangkruk" sudah berjalan.

“Oh, jadi ini yang disebut "cangkruk".”

Di banyak tempat, nongkrong biasanya dimulai dengan satu pertanyaan: Di mana? Tempat jadi titik awal. Orang memilih lokasi, menimbang suasana, lalu menyesuaikan diri dengan ruang yang sudah ditentukan. Duduk mengikuti meja, obrolan mengikuti durasi, dan pulang sering diputuskan oleh jam.

"Cangkruk" bekerja dari arah sebaliknya. Ia dimulai dari siapa. Kalau sudah ketemu orangnya, tempat jadi urusan belakangan. Bangku kayu, tikar, teras rumah, atau warung kecil di tengah sawah sama-sama sah. Ruang tidak memimpin perilaku, justru orang-oranglah yang mengisi dan mengaturnya sendiri.

Dalam nongkrong, waktu kerap terasa seperti sesuatu yang harus dikelola. Ada kesadaran halus tentang durasi: terlalu sebentar terasa kurang, terlalu lama terasa berlebihan. Dalam "cangkruk", waktu tidak diberi tekanan semacam itu. Duduk bisa sebentar, bisa lama, tanpa perlu alasan. Kalau cukup, orang bangkit. Kalau belum, ya tinggal.

Perbedaan ini tidak membuat yang satu lebih unggul. Keduanya lahir dari kebutuhan yang berbeda. Tapi di Kediri, kebiasaan lama itu masih bertahan karena ia memberi ruang pada jeda sesuatu yang semakin jarang di kota-kota yang bergerak cepat.

Terkadang seseorang mengeluh pelan tentang panas, tentang jalan yang memutar, atau tentang hari yang terasa berat tanpa sebab jelas. Tak ada respons panjang. Paling cuma tawa kecil, atau kalimat pendek yang menggantung, “Yo ngono kuwi.” Anehnya, keluhan itu tidak benar-benar selesai, tapi juga tidak terasa menumpuk lagi.


Halaman:

Komentar