Komunikasi Politik, Media, dan Indonesia Kekinian
Antara Demokrasi Prosedural, Spektakel Informasi, dan Krisis Makna Publik. Betulkah Indonesia dalam Arus Komunikasi Politik Baru?
Sepuluh tahun terakhir ini, wajah komunikasi politik di Indonesia berubah total. Kalau dulu pertarungannya masih seputar program kerja atau ideologi, sekarang sudah jauh berbeda. Yang diutamakan sekarang adalah bagaimana mengelola narasi, memainkan emosi, dan berebut perhatian publik. Medan pertempurannya pun berpindah, terutama ke media baik yang konvensional maupun yang digital.
Jadi, komunikasi politik sekarang bukan cuma soal menyampaikan pesan. Ia sudah menjelma jadi instrumen kekuasaan itu sendiri. Ia yang menentukan isu mana yang naik ke permukaan, bagaimana sebuah peristiwa harus ditafsirkan, dan berapa lama publik boleh peduli. Makanya, kesehatan demokrasi kita sekarang tak cuma diukur dari prosedur pemilu yang jujur, tapi juga dari bagaimana ekosistem komunikasi publik kita bekerja.
Fungsinya sendiri sudah bergeser. Dulu, komunikasi politik dimaknai sebagai proses persuasi yang rasional: politisi menawarkan gagasan, publik menimbang, lalu memberi dukungan. Tapi sekarang? Tujuannya berubah. Yang dicari bukan lagi persetujuan berdasarkan nalar, melainkan bagaimana mengatur persepsi dan menguasai waktu perhatian orang banyak.
Di masyarakat yang kebanjiran informasi seperti sekarang, perhatian adalah komoditas yang langka. Logika inilah yang kemudian diikuti. Para konsultan politik merancang strategi. Pesan dibuat singkat, provokatif, mudah dibagikan. Kompleksitas dipangkas, konteks dihilangkan, konflik justru diembuskan. Yang penting pesannya nempel di kepala, tak peduli argumennya dangkal.
Nah, di tengah semua ini, peran media jadi krusial. Media bukan lagi sekadar perantara yang netral. Ia adalah arena sekaligus pemain yang punya kepentingan dan logikanya sendiri. Tekanan untuk cepat, persaingan klikbait, dan obsesi pada viralitas membentuk cara media memilih dan memberitakan suatu isu.
Akibatnya, isu politik sering disajikan layaknya sinetron. Peristiwa yang punya nilai visual tinggi, penuh konflik, atau kontroversial dapat porsi besar. Sementara proses kebijakan yang rumit dan teknis tersingkirkan. Publik akhirnya lebih akrab dengan drama politik ketimbang memahami mekanisme politik yang sesungguhnya.
Relasi antara media dan kekuasaan pun jadi rumit. Di satu sisi, media butuh akses dan pernyataan dari para elite. Di sisi lain, elite memanfaatkan media untuk membangun citra dan menguji air. Hubungan ini jarang hitam-putih; ia beroperasi di wilayah abu-abu antara tuntutan profesional dan kepentingan politik.
Strategi Kepadatan Isu dan Kebisingan Informasi
Salah satu ciri khas komunikasi politik kekinian adalah kepadatan isu yang dirancang sedemikian rupa. Dalam waktu singkat, publik dibombardir dengan berbagai peristiwa penting yang datang hampir bersamaan. Semuanya terasa mendesak, tapi tak satu pun bertahan cukup lama untuk dikaji secara serius.
Kondisi ini menciptakan kebisingan informasi yang luar biasa. Publik merasa selalu ketinggalan, selalu harus bereaksi, dan fokusnya terus terpecah. Dalam kebisingan itu, kemampuan untuk membangun tuntutan kolektif pun melemah. Suatu masalah tak perlu disangkal atau diselesaikan cukup dibiarkan tenggelam oleh gelombang isu berikutnya. Strategi ini efektif secara politis. Kelelahan informasi melahirkan apatis dan sinisme, dua kondisi yang justru menguntungkan status quo.
Emosi pun menjadi mata uang baru dalam politik. Komunikasi politik di Indonesia sekarang sangat bergantung pada aktivasi emosi. Kemarahan, ketakutan, kebanggaan, atau rasa tersinggung jadi pintu masuk utama sebuah pesan. Emosi bergerak lebih cepat daripada nalar, dan lebih mudah menyebar lewat media sosial.
Dalam kerangka ini, polarisasi adalah konsekuensi sekaligus alat. Isu-isu dibingkai sedemikian rupa sehingga publik terdorong memilih kubu, bukan menimbang argumen. Identitas dan ikatan emosional mengalahkan penilaian rasional terhadap kebijakan dan kinerja.
Artikel Terkait
Tanggul Jebol, Banjir Setengah Meter Rendam Puluhan Rumah di Baros
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake
Gus Irfan Ingatkan Petugas Haji: Layani Jemaah, Bukan Cuma Nebeng Ibadah