Banda Aceh, Sabtu lalu suasana di Hotel Daka cukup tegang. Rapat koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana Sumatera digelar, membahas langkah konkret untuk warga yang terdampak. Di tengah pembahasan, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, menyatakan kesiapan penuhnya. Kementerian yang dipimpinnya siap menyalurkan bantuan, baik yang bersifat kebencanaan maupun reguler.
“Yang paling krusial dalam penyaluran bantuan sosial kebencanaan adalah soal data dan penyalurannya,” tegas Gus Ipul.
Dia menjelaskan, untuk bansos bencana, mereka akan berpatokan pada satu data yang sudah tervalidasi. Tujuannya jelas: mempercepat rehabilitasi sosial dan pemulihan ekonomi. Menurutnya, data awal disiapkan oleh BNPB, lalu ditetapkan pemda, sebelum akhirnya divalidasi oleh Kementerian Dalam Negeri selaku ketua Satgas. Baru setelah itu, Kemensos turun tangan.
“Setelah data ditetapkan dan divalidasi, Kementerian Sosial langsung menyalurkan bantuan berdasarkan data final tersebut,” ujarnya.
Penyalurannya sendiri, kata dia, bisa lewat Himbara atau PT Pos Indonesia, tergantung kondisi daerah. Soal dana, Gus Ipul tak menampik kebutuhan yang besar. Dari simulasi yang dilakukan, angkanya bisa mencapai Rp 2 triliun. Namun, dia memastikan bahwa lebih dari Rp 600 miliar di antaranya sudah siap cair. Dana itu rencananya dipakai untuk banyak hal: santunan korban meninggal dan luka berat, jaminan hidup, hunian sementara hingga tetap, bahkan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Di sisi lain, upaya darurat terus berjalan. Dapur umum tetap beroperasi, logistik disalurkan. Hingga kini, santunan sudah diberikan kepada lebih dari 140 ahli waris korban meninggal. Untuk korban luka berat, penyalurannya masih menunggu penetapan resmi dari kepala daerah.
Dalam rapat yang sama, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, selaku ketua Satgas, memberi penekanan lain. Baginya, bantuan sosial ini bukan sekadar santunan. Ia harus jadi instrumen untuk menggerakkan kembali perekonomian warga.
“Pemberian bantuan ini untuk menggerakkan perekonomian masyarakat, nantinya menyasar perputaran perekonomian warga,” ujar Tito.
Dia mendorong agar warga terdampak bisa segera dimasukkan ke program bansos reguler, seperti PKH atau PBI Jaminan Kesehatan Nasional. Dengan begitu, pemulihan bisa lebih berkelanjutan.
Rapat yang dibuka Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad itu juga mendengarkan laporan dari lapangan. T.A. Khalid, Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra yang jadi Koordinator Posko, menyampaikan sejumlah prioritas yang mendesak. Normalisasi sungai untuk cegah banjir susulan, misalnya. Lalu, membuka akses jalan dan jembatan ke wilayah terisolasi, menyediakan hunian sementara, serta membersihkan lingkungan dan rumah warga yang rusak ringan.
“Banyak persoalan teknis di lapangan yang sebenarnya bisa diselesaikan cepat jika komunikasi terbangun. Melalui koordinasi lintas kementerian, banyak hal bisa kita selesaikan,” papar Khalid.
Menanggapi hal itu, Gus Ipul kembali menegaskan komitmennya. Untuk bantuan sosial reguler seperti PKH, penyalurannya akan mengacu pada data hasil pemutakhiran oleh BPS. Begitu data tersedia dan diverifikasi, penyaluran akan segera dilakukan.
Intinya, Kemensos berjanji terus berkoordinasi dengan semua pihak dari Kemendagri, DPR RI, BNPB, hingga pemerintah daerah. Harapannya satu: bantuan tepat sasaran, dan kehidupan warga Aceh yang terdampak bisa pulih sepenuhnya, baik secara sosial maupun ekonomi.
Artikel Terkait
Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Raih Impian Haji dari Tabungan Receh Harian
Mantan Satpam Bobol Rumah Majikan Usai Dipecat, Rugikan Rp40 Juta
Tiket Ludes H-3, Antusiasme Suporter PSM Makassar Meledak Jelang Laga Kandang
Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Tangis di Hadapan DPRD Jatim