Indonesia dan China Perkuat Kolaborasi, Nilai Perdagangan Tembus Rp2.100 Triliun

- Minggu, 11 Januari 2026 | 16:50 WIB
Indonesia dan China Perkuat Kolaborasi, Nilai Perdagangan Tembus Rp2.100 Triliun

Hubungan Indonesia dan China makin erat, dan itu bukan cuma omong kosong belaka. Kerja sama di bidang perdagangan, investasi, hingga industri terus digenjot, membangun fondasi ekonomi untuk jangka panjang. Di sisi lain, peran aktor-aktor di lapangan, seperti Kamar Dagang China di Indonesia (CCCI), juga tak bisa dipandang sebelah mata.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto baru-baru ini bicara soal potensi kolaborasi yang luar biasa. Bayangkan saja, China punya populasi 1,4 miliar, terbesar kedua di dunia. Indonesia sendiri tak kalah, dengan 285 juta jiwa di peringkat keempat. Keduanya anggota G20, dengan kekuatan ekonomi yang solid.

“Ini benar-benar tonggak penting,” ujar Airlangga.

“Kolaborasi antara kedua negara terbuka lebar. Pasar yang besar ini menawarkan segudang peluang, baik bagi perusahaan maupun negara kita,” tambahnya dalam sambutan utama perayaan 20 tahun CCCI, Jumat lalu.

Selama dua puluh tahun, CCCI telah berkembang menjadi jembatan. Bukan cuma antara pengusaha dan pemerintah, tapi juga masyarakat kedua negara. Momentumnya makin kuat setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Beijing pada November 2024 lalu – sebuah langkah strategis yang menegaskan arah hubungan bilateral.

Angka perdagangan kedua negara memang mencengangkan, tembus USD135,2 miliar di tahun 2024. Namun begitu, kerja sama mereka lebih dari sekadar transaksi. Ada inisiatif Two Parks Twin Countries (TCTP) yang jadi kerangka strategis untuk kolaborasi industri, investasi, dan integrasi rantai pasok.

Nota Kesepahaman TCTP, pertama kali diluncurkan 2021, diperbarui Mei lalu. Penandatanganannya dilakukan Airlangga dan Menteri Perdagangan China Wang Wentao, disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Li Qiang. Ini jelas sinyal politik yang kuat, komitmen tingkat tinggi yang nyata.

Wujud nyatanya? Ada penandatanganan 16 proposal proyek antara perusahaan Fujian dan mitra Indonesia, dengan nilai total mencapai Rp36,4 triliun. Proyek-proyek ini merambah sektor strategis: dari logam dasar, pengolahan makanan laut, tekstil, hingga teknologi seperti drone, baterai, dan kecerdasan buatan.

“Ke depannya, Indonesia menyambut baik kolaborasi yang lebih dalam,” kata Airlangga.

Bidang yang dibidik pun makin beragam: infrastruktur, logistik, manufaktur, energi terbarukan, ekonomi digital, bahkan ketahanan pangan dan kesehatan. Semuanya di atas meja.

Soal iklim investasi, pemerintah berjanji terus berbenah. Reformasi regulasi, pembangunan infrastruktur, dan konsistensi kebijakan jadi prioritas agar Indonesia tetap jadi tujuan investasi yang menarik. Bahkan, sekarang sudah ada gugus tugas khusus untuk mempercepat program-program strategis, termasuk memangkas birokrasi untuk investasi.

Acara itu sendiri dihadiri deretan pejabat puncak. Mulai dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional, beberapa menteri kabinet, hingga Duta Besar China untuk Indonesia. Kehadiran mereka seperti penegasan: kerja sama ini diperhatikan dari tingkat paling atas.

Semuanya menunjukkan, hubungan Indonesia-China sedang tidak main-main. Mereka membangun sesuatu yang lebih dari sekadar mitra dagang biasa.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar