Bogor, Kota yang Menyemai Benih Sejarah Konferensi Asia Afrika

- Jumat, 21 November 2025 | 13:55 WIB
Bogor, Kota yang Menyemai Benih Sejarah Konferensi Asia Afrika

Bogor bukan sekadar kota hujan. Menurut Wali Kota Bogor Dedie Abdu Rachim, catatan sejarah membuktikan daerah ini punya peran penting bagi dunia. Bahkan, dari sinilah benih Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung pertama kali disemai.

“Kita ingin mengingatkan semua bahwa peran Bogor itu sudah sejak lama cukup penting,” tegas Dedie dalam The Ambassador Summit 2025 - Road to 71st Asia-Africa Conference di Balai Kota Bogor, Kamis (20/11/2025).

Sebelum KAA Bandung yang legendaris itu, ternyata sudah lebih dulu ada Konferensi Bogor. Dedie menjelaskan, pertemuan di akhir Desember 1954 itulah yang merumuskan poin-poin penting, yang kemudian melahirkan KAA di Bandung pada April 1955.

Konferensi Asia Afrika sendiri punya dampak besar. Ia mendorong kerja sama dan solidaritas negara-negara Asia dan Afrika di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga budaya. Tak hanya itu, konferensi ini juga menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan upaya memperkuat posisi negara berkembang di panggung global.

Nah, acara The Ambassador Summit 2025 ini dianggap sebagai upaya menjaga semangat itu tetap hidup. “Sebagai semangat anti-imperialisme, anti-kolonialisme, dan semangat untuk memerdekakan bangsa,” ujar Dedie.

Baginya, semangat ini bukan sekadar romantisme sejarah. Ujungnya adalah kesejahteraan umat, kesejahteraan masyarakat global. “Jadi itu yang harus selalu kita gelorakan,” sambungnya. Pemikiran para tokoh pendahulu, menurutnya, harus terus dikawal bersama agar tujuan akhir bernegara benar-benar terwujud.

Pandangan serupa datang dari Vikram Vardhan, Perwakilan Kedutaan Besar India. Dia menekankan bahwa setelah KAA Bandung, gelombang kemerdekaan menyapu banyak negara Asia dan Afrika.

“Sekarang, kita juga sedang hidup di saat yang sama, di mana kita tidak boleh lupa tentang KAA Bandung,” katanya. Prinsip-prinsipnya justru semakin relevan. India, Indonesia, dan negara berkembang lain, menurutnya, masih menghadapi tantangan dan punya aspirasi yang sama.

Di sisi lain, anggota DPR RI Rokhmin Dahuri juga menyoroti relevansi KAA di masa kini. Dia menyayangkan masih banyaknya standar ganda yang diterapkan negara maju, terutama dalam isu kemanusiaan.

“Ini masih sangat relevan,” tegas Rokhmin.

Dunia saat ini, menurutnya, masih menghadapi masalah serius. Angka kemiskinan global masih menyentuh 3 miliar orang, sementara kelaparan dialami oleh sekitar 1 miliar manusia. Belum lagi krisis ekologi triple crisis yang makin mengkhawatirkan.

Di bidang sosial politik, Rokhmin menyoroti genosida yang dilakukan Israel. Ironisnya, meski 85-90% negara di dunia mengutuk, Israel nyaris tidak mendapat sanksi berarti. “Itu kan menunjukkan double standard,” ungkapnya prihatin.

Menurutnya, tata kelola dunia yang munafik seperti inilah yang harus dilawan. Semangat KAA, dalam hal ini, menjadi benteng untuk menciptakan tata dunia yang lebih adil dan berimbang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar