Dalam pidatonya di Rakernas I PDIP 2026, Sabtu lalu, Megawati Soekarnoputri tak main-main menyoroti langkah Amerika Serikat di Venezuela. Ketua Umum PDIP itu secara tegas mengecam serangan militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Bagi Megawati, ini adalah langkah yang melampaui batas.
“Di tengah krisis global, dunia kembali dihadapkan pada praktik lama yang seharusnya ditinggalkan: intervensi, pemaksaan kehendak, dan penggunaan kekuatan militer terhadap negara berdaulat,” ucapnya tegas di hadapan kader partai.
Ia menilai tindakan Washington itu bukan cuma salah, tapi juga melanggar hukum internasional secara terang-terangan. Megawati menyebutnya sebagai bentuk neokolonialisme gaya baru yang menginjak-injak piagam PBB.
“Saya menyampaikan sikap tegas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan terhadap setiap bentuk intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela, termasuk penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya melalui operasi militer yang telah memicu kecaman internasional sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional,” tambahnya.
Nada pidatonya semakin keras. Mantan presiden kelima RI itu menegaskan bahwa demokrasi tak mungkin lahir dari paksaan senjata. Keadilan, menurutnya, juga mustahil tumbuh dari agresi sepihak seperti ini.
“Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern, yang mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hubungan antarbangsa,” ujar Megawati.
“Bangsa Indonesia menolak tatanan internasional yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain. Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa,” tegasnya lagi.
Lantas, apa solusinya? Megawati mendorong penyelesaian lewat jalur diplomasi. Dialog yang berlandaskan hukum internasional, bukan kekerasan, adalah satu-satunya jalan keluar yang manusiawi. Ia mengingatkan bahwa sejak era Bung Karno dan Konferensi Asia Afrika, Indonesia punya komitmen panjang menentang imperialisme.
“Karena itu, PDI Perjuangan menyerukan penyelesaian konflik internasional melalui dialog, diplomasi, dan hukum internasional, bukan melalui kekerasan yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat sipil,” tandasnya.
Insiden yang memicu kecaman ini bermula dari serangan mendadak AS ke Caracas. Pasukan khusus mereka menangkap Maduro dan membawanya ke Amerika. Presiden AS Donald Trump punya alasan sendiri: ia menuduh Maduro membiarkan peredaran narkoba yang membanjiri negaranya.
Setelah penangkapan itu, Trump bahkan menyatakan AS akan mengambil alih pemerintahan sementara di Venezuela. Tak cuma itu, ladang-ladang minyak negara tersebut juga akan dikelola oleh mereka. Sebuah pernyataan yang tentu saja memantik reaksi keras dari berbagai penjuru dunia.
Artikel Terkait
Gempa M 5,6 Guncang Tojo Una-Una, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Pertumbuhan Ekonomi Bone Diprediksi Tembus 8 Persen, Tertinggi dalam Beberapa Tahun Terakhir
Pemerintah Perkuat Koordinasi Lintas Lembaga Hadapi Tekanan Rupiah
Polisi Ungkap Motif Penganiayaan Pasutri di Deli Serdang: Pelaku Takut Aksi Direkam dan Viral