Oleh: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelejen)
Setiap proses industri, tentu menghasilkan produk yang bernilai. Tapi tak bisa dipungkiri, selalu ada limbah yang mengikutinya. Sisa-sia yang tak berguna, bahkan kadang beracun. Nah, kalau kita renungkan, dinamika sosial politik suatu bangsa ternyata tak jauh beda. Ia bekerja seperti seleksi alam.
Dari pergulatan panjang, muncullah individu-individu yang memberi manfaat bagi peradaban. Namun di sisi lain, tersisalah apa yang bisa disebut “produk gagal”. Mereka ini hidup dari mengais sisa-sisa kekuasaan. Kontribusinya nyaris nol, malah sering jadi racun dalam kehidupan bersama.
Negara maju biasanya punya sistem untuk mendaur ulang sampah semacam ini. Tapi di Indonesia? Ceritanya lain. Persoalannya tak pernah sesederhana itu.
Sejak era perjuangan kemerdekaan dulu, bangsa ini sudah akrab dengan kehadiran figur-figur yang bisa dibilang “limbah peradaban”. Mereka pandai bersembunyi di balik topeng kesalehan dan keteladanan. Tampak sederhana, seolah berjuang. Padahal, menurut sejumlah saksi dan catatan sejarah, peran mereka lebih mirip kuda Troya. Membuka pintu dari dalam untuk kepentingan asing, atau kekuasaan yang justru menindas bangsanya sendiri.
Dan hari ini, fenomena itu berulang lagi. Di tengah upaya banyak pihak menata ulang nilai-nilai kebangsaan yang sudah terkikis, muncul sosok-sosok “pejuang” yang tiba-tiba berbalik haluan. Mereka menukar harga diri dengan keuntungan duniawi yang sifatnya cuma sementara.
Artikel Terkait
Iran di Ambang Perubahan: Dari Protes Ekonomi ke Gugatan Sistem
Di Gereja Baciro, Perbedaan Ditangguhkan untuk Doa Bersama
Iran Gelap, Jalanan Membara: Protes Anti-Rezim Berkobar Meski Internet Dipadamkan
Ketika Amerika dan Rusia Berbenturan, Sudah Siapkah Indonesia Hadapi Dampaknya?