Di Gereja Baciro, Perbedaan Ditangguhkan untuk Doa Bersama

- Minggu, 11 Januari 2026 | 16:36 WIB
Di Gereja Baciro, Perbedaan Ditangguhkan untuk Doa Bersama

Suasana di Gereja Kristus Raja Baciro pada Kamis malam, 8 Januari 2026, terasa berbeda. Bangku-bangku terisi oleh wajah-wajah yang biasanya beribadah di tempat lain. Umat Katolik, jemaat dari berbagai gereja Kristen, para pendeta dan romo, bahkan siswa-siswi SMA semua berkumpul. Mereka hadir bukan untuk memperdebatkan perbedaan, tapi justru untuk menangguhkannya sejenak. Malam itu, mereka datang untuk berdoa bersama.

Di ruang itulah, ekumenisme yang sering terdengar sebagai istilah teologis yang kaku, akhirnya menyentuh tanah. Ia hidup dalam percakapan hangat, dalam kesaksian sederhana, dan dalam rencana-rencana kecil yang disusun bersama. Seminar Ekumenisme itu sendiri menjadi pembuka, sebuah gerbang menuju rangkaian Pekan Doa Sedunia 2026 yang puncaknya akan digelar pada Rabu, 21 Januari mendatang.

“Ekumenisme itu mendorong gereja-gereja untuk berjalan bersama tanpa mempersoalkan denominasi,”

kata Pendeta Jozef M. Hehanussa, seorang pendeta GPIB yang juga mengajar teologi.

“Kita semua satu di dalam Kristus, meski cara beribadah dan tradisinya berbeda.”

Sebuah Perjalanan yang Sudah Lama

Menurut Romo Martinus Joko Lelono, Pekan Doa Sedunia ini bukanlah barang baru. Ia punya akar sejarah yang dalam.

“Ini rangkaian panjang yang dilakukan di seluruh dunia sejak 1908,” ujarnya.

Jadi, sudah lebih dari seabad, gereja-gereja Kristen dan Katolik di berbagai belahan dunia menyisihkan satu pekan khusus. Tujuannya satu: mendoakan kesatuan umat Kristiani. Itu adalah sebuah respons, sebuah upaya penyembuhan terhadap luka perpecahan gereja yang sudah berlangsung sejak abad-abad lampau.

Di Yogyakarta sendiri, tradisi ibadah ekumenis ini sudah berdenyut sejak sekitar 2014. Acaranya berpindah-pindah, menyambangi satu gereja lalu ke gereja lainnya GKI Gejayan, GKJ Gondokusuman, HKBP Kotabaru, sampai Gereja Katolik Babarsari. Tahun ini, giliran Gereja Kristus Raja Baciro menjadi tuan rumah.

Lebih Dulu Belajar, Baru Berdoa

Seminar yang dihadiri sekitar 130 orang itu jelas bukan sekadar formalitas pembuka. Bonifatius Aditya Kurniawan, koordinator penyelenggara, menegaskan bahwa acara ini sengaja dirancang sebagai ruang belajar.

“Banyak umat yang sebenarnya belum sungguh-sungguh tahu apa itu Pekan Doa Sedunia dan apa makna ekumenisme,” kata Bonifatius.

“Seminar ini memastikan umat memahami tujuannya, sehingga ibadat puncak nanti dijalani dengan kesadaran.”

Para pesertanya pun beragam. Ada yang dari lingkungan Paroki Baciro, ada komunitas orang muda, umat lintas gereja, hingga siswa-siswi dari SMA Stella Duce 1, Stella Duce 2, dan SMA Bopkri. Kehadiran anak muda ini sendiri menjadi perhatian khusus para panitia.

“Kami ingin anak-anak muda menjadi kader persaudaraan,” harap Romo Martinus. “Bukan hanya di lingkup gereja, tapi juga di masyarakat yang lebih luas.”


Halaman:

Komentar